REGISTER NEW ACCOUNT

By signing up, I agree to Myperpus Terms and Condition

Register with Facebook


Sarasvati - Me(ruang) Raga Agus TBR | Sarasvati

Me(ruang) Raga Agus TBR | Sarasvati

sarasvati

Published by svastisarasvati

Category: Art & Design

Edition : April 2016

Pages : 88

ISBN : 9-772338-180006

Published : 01 Apr 2016

Mengiringi perluasan ruang gerak Sarasvati, di edisi ini kami menyiapkan tentang pameran yang diadakan untuk mengenang sosok Raden Ajeng Kartini yang setiap April kita rayakan kepahlawanannya. Di pameran inilah kita melihat betapa sumber-sumber sejarah bisa menginspirasi dan terlibat dalam peristiwa kesenian.

 

Sebagai sampul edisi April ini, kami menampilkan karya Agus TBR yang mengadakan pameran tunggal dengan mengangkat pemikirannya akan aspek tubuh yang tak kalah esensialnya dengan jiwa dalam diri manusia. Didukung oleh kemampuan tekniknya, karya-karya Agus mengajak kita untuk menyusuri aspek anatomi tubuh dalam seni rupa kontemporer kita sekaligus untuk menyelami metafora-metafora yang diangkatnya.

 

Ulasan lainnya yang kami sajikan di edisi ini adalah peresmian kembali NuArt Sculpture Park dari perupa senior kita, Nyoman Nuarta yang ditandai dengan sebuah kegiatan kesenian bertajuk Mulat Sarira Nagri Parahyangan. Peresmian NuArt menandai posisinya sebagai ruang berkesenian bagi para seniman muda dan emerging di mana Nyoman Nuarta melibatkan sejumlah kurator seperti Jim Supangkat, TaufikRahzen, dan Putu Fajar Arcana untuk menyeleksi para seniman ini untuk ditampilkan di ruang seni yang terletak di Bandung.

IDR 5.016,00

RELATED READS

  • Sarasvati - STREET ART KALIJODO

    KALIJODO yang dulu terkenal sebagai area prostitusi, kini lahir kembali menjadi ruang public terpadu ramah anak (RPTRA). Yori Antar yang merancang. Ada skate park dan tembok lebar bergraffiti yang dikurasi tim kreatif bernama Artsip Jakarta, Berisi para professional dengan macam-macam latar belakang

    . Tim Artsip Jakarta membebaskan 11 seniman untuk berkarya, menjadikan tembok sebagai kanvas mereka menginterpretasi Kalijodo, wilayah bersejarah bagi masyarakat Tionghoa Betawi, tanpa kata-kata kasar atau pun pornografi. Keindahan yang sebelumnya tak terbayangkan bisa hadir di tempat ini sekaligus

    menjadikannya tempat libur keluarga. Sarasvati edisi Maret juga mengangkat “keisengan” seniman asal Prancis Enora Lalet dalam mengutak-atik makanan menjadi busana. Kulit durian menjadi helm, kacang polong dia jadikan kacamata, dan wig dari wafer. Lebih dari 20 karyanya dipamerkan di Sela

    sar Sunaryo Art Space, Bandung dalam tajuk “Tata Boga”. Dengan makanan lokal sebagai material karya, dia membuat relasi yang lebih leluasa antara makanan dan tubuh. Kabar lain datang dari sastrawan, kolumnis, dan pewarta senior Goenawan Mohamad (GM) yang mengadakan pameran “Kata, G

    ambar”. Tak kurang 200 sketsa karya GM dipamerkan di Dia.Lo. Gue Artspace, Jakarta. Tak banyak yang tahu, ternyata sudah lama GM suka membuat sketsa, yang digerakkan oleh sajak dan tulisan, menghasilkan sketsa dengan guratan yang sama bernas dengan Catatan Pinggir-nya. Di Gedung OLVEH, Kota Tu

    a Jakarta, Tempo School of Photography menggelar pameran bertajuk “New Sets of Eyes”. Pameran ini melibatkan 26 siswa dari tiga angkatan kelas dasar di Tempo School of Photography, dan dikuratori Aditia Noviansyah dan Eka Nickmatulhuda. Para fotografer muda ini mulai menemukan gaya merek

    a dari objek-objek keseharian. Foto yang bercerita, yang punya sentuhan personal. Pameran berlangsung hingga 4 Maret 2017. Jangan lewatkan feature khas kami tentang peluang pendanaan swadaya seniman serta ulasan pameran lukisan karya Leo Budhi, arsitektur rumah Sabu, musik Maladialum, dan perjalanan

    ke kediaman konglomerat Oei Tiong Ham di Semarang. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - SENI, MANUSIA, DAN ALAM SEMESTA

    PADA 1977, dua wahana luar angkasa, Voyager 1 dan 2 diluncurkan NASA untuk melakukan penjelajahan sistem tata surya yang belum diketahui. Masing-masing di dalam wahana tersebut, NASA menempatkan piringan suara yang terbuat dari emas, dengan nama Voyager Golden Record. Di dalam Record tersebut, tersi

    mpan sejumlah rekaman suara-suara dari bumi, galeri foto, hingga komposisi musik karya sejumlah komposer, dan salah satu yang terpilih adalah Puspawarna, komposisi gamelan Jawa yang liriknya diciptakan  Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran IV (1853-1881) dan dimainkan oleh Tjokrowasito (1909-200

    7). Piringan suara ini diharapkan menjadi pembawa pesan tentang kehidupan manusia di bumi kepada kehidupan di luar bumi. Di sinilah seni telah dinilai sebagai unsur yang mewakili peradaban manusia, sehingga NASA memilihnya untuk memperlihatkan pencapaian manusia dalam mengelola hidupnya dan planet t

    empat ia bermukim. Sehingga pantaslah jika dunia seni Indonesia mulai mengarahkan perhatiannya pada seluk beluk luar angkasa. Di edisi inilah kami memunculkan peristiwa seni dari Venzha Christiawan, seniman Indonesia yang terpilih oleh NASA untuk menampilkan karya wahananya di Marina Bay Sands, Sing

    apura. Lewat karyanya ini, Venzha yang memang dikenal di Indonesia sebagai seniman yang konsisten mengangkat tema-tema ekstraterestrial, diundang NASA untuk menampilkan karyanya di pameran “NASA – A Human Adventure” di ArtScience Museum, Singapura, pada 19 November 2016 – 19

    Maret 2017. Pameran ini diharapkan bisa membuka wilayah inspirasi seniman Indonesia, untuk merambah pada bidang-bidang sains seperti luar angkasa. Pada edisi ini pula, kami mengulas tentang praktik kerja kolektif yang muncul dari Milisifotocopy dan pameran Sindikat Campursari. Pada Milisifotocopy, k

    ita bisa melihat sebuah kolektif seniman yang menggunakan praktik-praktik seni untuk mengangkat masalah-masalah sosial masyarakat. Sedangkan Sindikat Campursari merupakan pameran yang mengumpulkan seniman dari beragam latar belakang untuk bersama-sama bekerja dan tinggal di ruang pameran selama tiga

    minggu. Kami juga menampilkan sejumlah pameran seniman Indonesia di negara lain untuk edisi Februari 2017. Yaitu pameran Dadi Setiyadi dan Awang Behartawan di Kopenhagen, Denmark, pameran Indieguerillas di Singapura, serta pameran tunggal Lugas Syllabus di Manila, Filipina. Dari pameran seniman-sen

    iman kita di negara lain inilah kita bisa berharap bahwa seni rupa Indonesia semakin mendapat tempat secara internasional. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - JAKARTA CONTEMPORARY CERAMICS BIENNALE IV

    KERAMIK sering kali masih dipandang sebagai media yang “crafty” dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Mungkin dengan arus kekinian yang lebih memandang multimedia dan instalasi sebagai seni yang mewakili semangat kontemporer, seni keramik hampir dianggap sama posisinya dengan seni lu

    kis dan patung, yaitu seni yang masih berdaya di kalangan pecinta seni rupa modern. Namun dalam Jakarta Contemporary Ceramics Biennale, publik seni diajak untuk menerima dan bahkan memuji bagaimana media ini lentur dalam mengikuti perkembangan zaman. Karya-karya yang ditampilkan dalam perhelatan dua

    tahunan di Galeri Nasional Indonesia ini memperlihatkan bentuk-bentuk visual yang memikat, patut dipuji, dan menghilangkan batasan-batasan yang dibayangan khalayak awam tentang keramik. Bahkan yang patut sangat didukung adalah bagaimana panitia dan kurator JCCB ini menciptakan platform residensi da

    n kolaborasi tempat senimanseniman yang bahkan bukan berangkat dari media keramik, diajak serta untuk menciptakan karya keramik. Residensi Di tempat-tempat yang tak melulu sanggar atau studio keramik, juga bisa menjadi cara menyebarkan virus kreatif bagi perusahaan-perusahaan keramik yang ikut berpa

    rtisipasi. Di edisi ini pula kami mengangkat bagaimana perkembangan seni rupa kontemporer telah menempatkan arsip sebagai pijakan penciptaan karya. Di Indonesia mungkin hal ini belum terlalu banyak dieksplorasi, namun dengan melihat contoh-contoh karya berbasis arsip dari seniman-seniman di belahan

    dunia lain, maka seniman Indonesia bisa mendapatkan tambahan dan perluasan eksplorasi ide dan tema. Sejumlah peristiwa menarik lainnya yang kami angkat di edisi ini adalah kompetisi trimatra dari Galeri Salihara yang menyajikan karyakarya pemenang kompetisi; menjadikan public seni ikut mengikuti per

    kembangan terkini yang dicapai seniman-seniman trimatra di Indonesia. Acara Menarik lainnya adalah pameran terbaru Nasirun Di Museum Nuarta Yang menampilkan upaya Nasirun Merespons patung-patung I Nyoman Nuarta Yang ada di sana. Kami Juga mengangkat praktik kekaryaan Iwan Effendi, Sosok yang bertang

    gung jawab dalam kreasi boneka khas Papermoon Puppet Theater. Karya-karya Boneka tersebut ikut dipamerkan sebagai bagian Pesta Boneka #5 yang berlangsung Desember silam. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - JATENG DAN SUMATRA | MAJALAH SARASVATI

    EDISI kali ini menyorot penyelenggaraan bienial yang makin marak di dalam dan luar negeri. Ada yang tepat sasaran, tak sedikit yang sekadar pemanis acara sebuah kota. Tumbuhnya gelaran seni dua tahunan tersebut sebenarnya kesempatan bagi seniman-seniman Indonesia untuk memberanikan diri memasukinya.

    Seperti dilakukan Antonius Kho dan Tiarma Sirait, dua seniman Indonesia yang terpilih menampilkan karya mereka di Asian Art Biennale Bangladesh. Antonius dan Tiarma dipilih lantaran beberapa tahun belakangan aktif membangun jaringan kerja seniman di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dari Singapore Bi

    ennale kita dapat berita menyenangkan. Satu  seniman mewakili Indonesia yang mengikuti Singapore Biennale terpilih sebagai —nalis untuk Bennese Prize, yakni Ade Darmawan dengan karya Singapore Human Resources Institute. Pemenangnya, yang diumumkan pada Januari 2017, akan dikomisi untuk me

    nciptakan site-speci_c installation untuk Bennese Art Site di pulau Naoshima, Jepang. Kami juga menyuguhkan dua cerita dari bienial di dalam negeri. Biennale Jateng mengambil tema “KRONOTOPOS”, dilatarbelakangi warisan budaya yang tersebar di Kota Semarang dan kota-kota lain di Provinsi

    Jawa Tengah. Bangunan-bangunan macam Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Kota Lama Semarang menjadi titik masuk sekaligus inspirasi untuk dihadirkan ulang dalam tafsir visual. Gelaran perdana ini mayoritas diikuti seniman kenamaan yang memamerkan karya-karya lama mereka, tapi belum memunculkan kebaruan cara

    pandang dan visual dari daerah-daerah non pusat seni. Perupa muda mendominasi Biennale Sumatera #3 di Jambi, dengan proporsi 70 persen perupa muda dan 30 persen perupa senior. Namun demikian, sebagian besar karya tak berpijak pada lokalitas. Ramai-ramai menggelar bienial tentu saja baik sebagai seb

    uah inisiasi. Akan disayangkan jika penyelenggaraannya parsial, tak ada interkoneksi antarpenyelenggara. Akibatnya tak ada pewacanaan bersama yang dapat dibangun untuk melihat arah dan masa depan seni rupa ataupun bidang lainnya di Indonesia. Acara sekelas bienial idealnya kanon atas peradaban. Jika

    ada yang belum tepat sasaran, perlu dilacak lagi urgensi penyelenggaraannya bagi sebuah kota/wilayah.  Karya-karya di dalamnya harus mampu memperluas gagasan publik dan menyediakan makna yang berlapis, bukan semata-mata artistik.

  • Sarasvati - PAMERAN SENI MEDIA INSTALASI KOREA-INDONESIA MEDIA KE-4

    DIALOG Indonesia dengan negara lain menjadi salah satu yang mengemuka dalam edisi ini. Pertama adalah dialog Indonesia dengan skena seni rupa di Asia Tenggara lewat pameran SEA+ Triennale di Galeri Nasional yang berlangsung dari 18 Oktober-10 November 2016. Di pameran yang tahun ini menginjak kali k

    edua, public Indonesia bisa menilai sejauh mana pencapaian, tren, bahkan perbedaan dari seniman negeri sendiri dengan negara-negara lain yang terlibat di pameran SEA+ Triennale. Meski triennial tahun ini memperlihatkan fokus yang didominasi  seniman-seniman muda di Indonesia, masih ditemukan se

    jumlah nama perupa senior dan mapan, yang menurut kurator, untuk mengimbangi dan menjembatani kehadiran seniman-seniman ASEAN yang kemunculan kariernya dari periode 1990-an. Akan lebih baik jika penyelenggara dan kurator bisa lebih fokus untuk menentukan kelompok seniman yang dilibatkan. Dalam rangk

    a mengulas pameran inilah, kami menampilkan karya Jabbar Muhammad sebagai sampul edisi November ini. Dialog kedua adalah yang terjadi di pameran keempat Korea-Indonesia Media Installation Art yang diadakan Korean Cultural Center di Galeria Fatahillah pada akhir Oktober hingga awal November. Pameran

    yang mengolah seni instalasi ini cenderung lebih fokus untuk melibatkan seniman-seniman muda dari kedua negara, sekaligus mengarahkan peluang penciptaan pada media seni instalasi. Dengan fokus semacam ini, publik lebih mudah mengukur perbandingan sejauh mana seniman kedua negara ini mengolah kosa ru

    pa dalam ranah seni instalasi. Dalam skala yang berbeda, tujuan berdialog pula yang menjadi spirit penyelenggaraan Yogyakarta Open Studio yang kembali digelar tahun ini. Total ada 17 studio seniman di Yogyakarta yang berpartisipasi membuka studionya untuk publik. Dengan membuka forum dialog ini, pub

    lik bisa mengetahui cara bekerja seniman dan bahkan mempelajari sejarah seni karena tahun ini penyelenggara YOS mengundang sejumlah sejarawan seni dari dalam dan luar negeri untuk mengadakan sejumlah diskusi. Selain mengangkat tema dialog dalam skena seni rupa, edisi November ini juga mengulas perhe

    latan tiga bienial di tiga kota di Korea Selatan – Seoul, Gwangju, dan Busan – yang menampilkan juga beberapa seniman Indonesia, yaitu Ade Darmawan, Julia Sarisetiati, Tromarama, dan Venza Christiawan.

  • Sarasvati - Yang Gres Di Gresik Art

    DI edisi bulan ini, kami khusus memberitakan sejumlah acara pameran yang berfokus pada para perupa muda. Seperti di Yogyakarta, pameran “Perupa Muda 2016” di Bale Banjar Sangkring menampilkan karya-karya perupa muda. Festival Kesenian Yogyakarta bahkan  punya program khusus Pameran

    Perupa Muda (Paperu),  ajang kompetisi seniman muda untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka melalui metode open call application. Hasilnya, Paperu menjaring 250 aplikasi dari dalam dan luar Yogyakarta. Untuk seorang perupa, usia muda terentang antara 20 hingga 30 tahun, dan  (biasanya

    ) masih jarang pada usia itu yang karyanya benar-benar sudah “ jadi”. Walau begitu, ternyata karya mereka demikian diminati. Namun demikian ada catatan untuk Paperu. Proporsi perupa yang terlibat cenderung tak seimbang, lebih banyak seniman undangan ketimbang seniman aplikasi. Juga dijum

    pai jajaran karya seniman yang tak bisa lagi dibilang muda dalam pameran yang tujuannya mengakomodasi seniman muda. Walau dapat sepanggung dengan perupa kenamaan dapat membangun reputasi perupa muda, tentu lebih baik jika penyelenggara menentukan secara tegas batasan konteks muda di sini. Jangan sam

    pai perupa muda hanya jadi pelengkap pameran. Kabar baik kami terima dari Gresik, Jawa Timur. Di kota yang “sepi” acara seni itu akhirnya dihelat “GresArt 0.1”, pameran yang serius, terkonsep, dan digarap dengan persiapan matang. Sekumpulan penggiat seni yang tergabung dalam

    Galeri Senirupa Gresik (GASRUG) yang mengupayakannya. Kabar tentang kiprah perupa muda tidak hanya terjadi di Yogyakarta, tapi juga di Pearl Lam Gallery di Singapore, yang menghadirkan tiga perupa muda Indonesia yang posisinya telah meng-internasional, yaitu Aditya Novali, Andy Dewantoro, dan Yudi S

    ulistyo. Kiprah lainnya dari perupa yang juga telah bertaraf internasional yang kami tampilkan di edisi ini adalah Tisna Sanjaya yang berpameran tunggal di Erasmus Huis. Dalam pameran ini, Tisna mempersoalkan keajegan kapitalisme hingga krisis sumber daya alam yang menimpa Kota Bandung Selatan. Masi

    h dengan pendekatan khas Tisna yang menjadikan material local dan tubuhnya sebagai bagian dari karya, pameran ini merupakan bentuk keprihatinan Tisna terhadap rusaknya keseimbangan alam dan perilaku manusia di dalamnya. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - Kisah Karya Seni Di Sebuah Terminal | Majalah Sarasvati

    MESKI bangsa Indonesia bisa dikatakan memiliki potensi luar biasa dalam segi jumlah dan kualitas para senimannya, harus diakui bahwa kita masih kurang menampilkan karya-karya seniman negeri sendiri di ruang publik. Padahal jika menilik dari sejarah, bapak pendiri Negara ini, Ir. Soekarno, telah meri

    ntis dengan tidak hanya mengoleksi secara pribadi, namun juga mengkomisi para seniman untuk menampilkan karya-karyanya di ruang publik. Namun setelah era keemasan itu berakhir, lama kita tidak menemukan sebuah ekspose monumental karya seni seniman Indonesia di ruang-ruang publik. Bahkan dalam sejuml

    ah kasus, kita mendapati sejumlah protes dan teror masyarakat terhadap karya-karya patung di ruang public dengan berbagai alasan, misalnya norma atau agama. Meski tak sama persis, kasus semacam ini baru dialami seniman Galam Zulkifli, di mana karyanya terpaksa diturunkan dari pemajangan di Terminal

    3 Bandara Soekarno Hatta, ketika sejumlah media online mempermasalahkan keberadaan wajah D.N. Aidit di dalam karya lukisnya. Di edisi September 2016 ini kami mengulas tentang peristiwa ini dari sudut pandang bahwa patut disesalkan public belum teredukasi secara baik tentang cara mengapresiasi karya

    seni yang tampil di ruang publik. Media yang seharusnya bisa menjadi saluran komunikasi untuk mendukung peluang menampilkan karya seni seniman Indonesia di ruang publik seperti yang dilakukan pihak Angkasa Pura, justru alpa pada tugas ini. Di sinilah semua pihak sudah sepantasnya mendukung upaya-upa

    ya dari berbagai pihak, baik itu dari pihak pemerintah maupun swasta dalam menampilkan karya seniman Indonesia di negeri sendiri, sekaligus sebagai cara untuk meningkatkan apresiasi publik pada karya seni. Di edisi ini, kami tak hanya menampilkan upaya menghargai dan mengukir sejarah dari contoh yan

    g dilakukan Angkasa Pura II dengan menampilkan karya seni rupa di bandara, tapi juga dari pameran tunggal Lenny Ratnasari Weichert yang mengangkat isu keperempuanan dan HAM pada perjalanan sejarah Indonesia, dalam tajuk “Pilgrimage”, di Galeri Nasional pada 20 September-1 Oktober 2016. S

    udut pandang sejarah pula yang mengantar seniman muda Melissa Sunjaya untuk menampilkan karya visual dari karya-karya pujangga Chairil Anwar. Demikian juga atas nama sejarah, kita patut menghargai upaya mantan Presiden RI, B.J. Habibie yang merayakan usia 80 tahunnya dengan membuat ode terhadap ibu

    pertiwi.

  • Sarasvati - Merayakan Sejarah Bangsa Lewat Koleksi Istana | Sarasvati

    PADA edisi Agustus ini, cukup banyak berita membanggakan di bidang seni rupa yang patut kita sambut bersama. Pertama, tentang dipamerkannya sebagiankoleksi karya seni milik istana kepada publik. Bertempat di Galeri Nasional, pameran yang berlangsung hingga 30 Agustusini memberikan kesempatan kepada

    publik tidak hanya dari sisi mempelajari perjalanan sejarah kebangsaan, namun jugamenumbuhkan apresiasi seni yang bagaimana pun merupakansalah satu tugas negara.   Sejumlah karya seni rupa bersejarah ditampilkan di pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemente

    rian Sekretariat Negara, Badan Ekonomi Kreatif, dan Bank Mandiri ini, dari karya Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Dullah, Affandi, Sudjojono, Henk Ngantung, dan masih banyak lagi nama-nama perupa legendaris Indonesia. Di antara 28 lukisan dan 100 foto kepresidenan yang ditampilkan, untuk pertama kalin

    ya publik bisa melihat lukisan karya Presiden Sukarno berjudul Rini (1958).   Dari pameran koleksi istana, kita juga patut berbangga atas pameran tunggal perupa Ay Tjoe Christine di White Cube Gallery di London, yang salah satu karyanya kami tampilkan sebagai sampul edisi ini. Tampilnya seniman

    Indonesia di ranah seni rupa internasional memang bukan kali pertama ini saja, namun pameran tunggal Christine ini patut kita sambut dengan respons positif sebagai bukti bahwa karya anak bangsa masih diperhitungkan secara internasional.   Di edisi ini pula, kami menampilkan ulasan retrospeksi

    pada dua seniman Indonesia yang sudah tiada, yaitu Priyanto Sunarto dan I Gusti Ayu Kadek Murniasih. Keduanya sama-sama telah menorehkanpengaruh di perjalanan seni rupa Indonesia, di mana Priyanto  memberikan kontribusi penting pada perkembangan seni cetak dan  grafis; dan Murni kita kenal

    sebagai perupa yang cukup signifikan dalam menampilkan wacana seputar seksualitas dan identitas perempuan.   Dari ranah pasar seni rupa, bulan ini publik seni diramaikan dengan perhelatan dua bursa seni yang diselenggarakan dalam waktu yang relatif berdekatan. Tinjauan tentang hal ini ditulis

    secara menarik oleh kurator dan pengamat seni rupa Alia Swastika, yang mencoba membaca gejala sekaligus harapan yang sepatutnya bisa dicapai dari kemunculan bursa-bursa seni di Indonesia.   Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - KISRUH PENDANAAN MANDIRI ART | JOG 9

    PERSOALAN pendanaan memang kerap menjadi situasi klasik yang dialami penyelenggara acara-acara kesenian di Indonesia. Minimnya dukungan pemerintah sering kali menjadi pendorong penyelenggara untuk melibatkan perusahaanperusahaan swasta. Tak Terkecuali MANDIRI ART|JOG 9 yang Tahun ini menyematkan nam

    a sponsor terbesar mereka, Bank Mandiri, Di urutan pertama. Terutama Lagi adanya kritik dari sejumlah kalangan atas keterlibatan PT. Freeport Indonesia Sebagai salah satu pendonor.   Di Edisi inilah sejumlah catatan kritis didedahkan Agung Hujatnikajennong terhadap perjalanan ART|JOG selama sem

    bilan tahun. Situasi dilematis yang dihadapi ART|JOG dari sisi pendanaan dan kurangnya dukungan pemerintah ini, menjadi salah satu topic perbincangan dengan Dirjen Kebudayaan kita, Hilmar Farid, yang muncul pada edisi Juli 2016 ini. Dalam wawancara tersebut, tak hanya dibahas kebijakan dan prioritas

    apa saja yang ditetapkan pemerintah dalam menentukan kegiatan kesenian dan kebudayaan yang perlu didukung, namun juga meluas pada perihal-perihal seperti sertifikasi seniman, signifikansi kongres kebudayaan, hingga kerja sama program yang mestinya bisa dijalankan antara museum privat dan negara. &n

    bsp; Di edisi ini, kami juga membahas sejumlah isu kemanusiaan dan luka sejarah politik yang menjadi tema berkesenian sejumlah seniman. Di antaranya laku seni rupa pertunjukan yang ditampilkan Melati Suroyodarmo yang mempersoalkan kembali isu permintaan maaf negara pada korban kekerasan HAM dan pame

    ran tunggal Dewa Ngakan Made Ardana yang bertajuk “Hana Tan Hana” yang melihat  kembali peristiwa genosida 1965 di Bali dan menampilkannya dalam  karya yang sarat nuansa muram.   Salah satu karya pada pameran “Sapiens Free” di OHD Museum  kami jadikan samp

    ul edisi Juli 2016, yaitu Figure of Speech dari seri Faceless yang ditekuni Erizal AS belakangan. Pada pameran ini, lukisan, patung trimatra, juga video, tidak memuat manusia sama sekali di dalamnya. Tapi, apakah dengan cara tersebut seni benarbenar bisa melepaskan dirinya dari manusia?

  • Sarasvati - Menghidu Wangi Jerami  S. Dwi Stya ‘Acong’

    DI edisi ini, secara khusus kami memuat tulisan obituary tentang arsitek senior Indonesia, Han Awal, yang berpulang pada 14 Mei 2016. Ditulis oleh penulis dan arsitek muda Avianti Armand, obituari ini menampilkan warisan tak ternilai dari seorang Han Awal yang meletakkan dasar-dasar etika arsitektur

    Indonesia sekaligus penghargaan bidang ini pada sejarah.   Obituari berkesan juga dituliskan oleh Suwarno Wisetrotomo tentang kepergian Abas Alibasyah, seniman senior yang juga seorang pendidik dan pejuang kemerdekaan  yang berjasa dalam mengubah status Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)

    di Yogyakarta menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), sehingga para lulusannya berhak menyandang gelar sarjana.   Jejak peninggalan Abas Alibasyah pada kampus seni di Yogyakarta ini di lain pihak melahirkan tugas lain yang dituliskan Kuss Indarto pada esainya di edisi ini, bahwa terjadi p

    roblem regenerasi staf pengajar di FSR ISI Yogyakarta yang berkemampuan lebih dalam dunia praksis seni rupa. Mengingat pada masa kampus tersebut berdiri hingga awal dasawarsa 1990-an, para dosen ISI terdiri dari para seniman yang memiliki kelas tersendiri di ranah seni rupa Indonesia.   Pada sa

    mpul edisi Juni 2016 ini kami menampilkan karya terbaru S. Dwi Stya ‘Acong’. Terinspirasi bentuk jerami, Acong mengolah bentuk goresan yang membentuk distorsi dan motif unik di sekujur kanvasnya. Pengolahan bentuk jerami ini ia dapatkan setelah mempelajari filosofi pertanian Masanobu Fuk

    uoka.   Selain Acong, seniman muda yang kami tampilkan di edisi ini adalah I Wayan Upadana yang berpameran tunggal di Fremantle Art Center di kota Fremantle, Australia Barat. Di pameran itu, Upadana  menampilkan eksplorasi terbarunya yang berangkat dari hasil residensinya di Fremantle seta

    hun sebelumnya. Dari kemunculan kiprah seniman-seniman muda inilah, kita boleh berharap bahwa warisan yang didedahkan oleh sosok-sosok inspiratif seperti Han Awal dan Abas Alibasyah tak akan pernah sia-sia.

  • Sarasvati - Yang Populer Dan Beken Di ART|JOG 9

    BURSA seni ART|JOG kembali hadir tahun ini. Menginjak tahun kesembilan, ART|JOG membawa sejumlah perubahan yang patut disimak. Pertama, kepindahan Penyelenggaraan dari Taman Budaya Yogyakarta ke Jogja National Museum. Kepindahan ini tentu saja membawa sejumlah konsekuensi. Salah satu yang terutama a

    dalah panitia harus mengurangi jumlah karya yang ditampilkan. Tak lagi sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Selain itu juga harus bersiasat dengan karakter ruangan JNM yang penuh sekat.   Kondisi ini mendorong panitia untuk meniadakan sistem open call  dan hanya melibatkan seniman-seniman yang

    telah memiliki nama besar di skena seni rupa Indonesia. Keterlibatan seniman-seniman mapan ini menurut panitia ART|JOG 2016 sebagai bagian dari upaya mereka memperlihatkan karya para seniman paling berpengaruh dan terbaik sepanjang sejarah perhelatan ART|JOG.   Perubahan sistem pengelolaan ART

    |JOG ini ternyata tak membawa perubahan pandangan publik seni rupa di Yogyakarta terhadap bursa seni terbesar di kotanya ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ART|JOG tetap dipandang menjadi magnet bagi perhelatan seni lainnya di Yogyakarta dan Magelang. Sejumlah galeri dan ruang seni mengadakan acar

    a yang menyertai ART|JOG, yang sebagian besar ditampilkan di edisi Mei kali ini.   Salah satu yang terbaru adalah Yogya Annual Award yang diadakan Sangkring Art Space. Penghargaan untuk pertama kalinya  ini diharapkan bisa membagi perhatian publik seni dari semata-mata  tertuju pada A

    RT|JOG, dan bisa menjadi sebuah peristiwa seni rupa yang penting dan simbolik bagi Yogyakarta.   Selain mengulas sejumlah acara kesenian di Yogyakarta, edisi ini kami juga mengangkat peristiwa seni rupa penting lainnya di Jakarta, yaitu pameran tiga perupa yang memenangi Kompetisi Karya Trimatr

    a Salihara 2013 di Galeri Salihara. Karya juara dari kompetisi tersebut, Faisal Habibi, kami tampilkan sebagai sampul muka di edisi ini. Lewat karya tiga perupa muda inilah, kita bisa melihat sebuah masa depan perkembangan karya patung kontemporer Indonesia.

  • Sarasvati - MEMBACA ARAH BIENIAL Di INDONESIA

  • Sarasvati - OCTORA Dan BAYANG SURAM 1965 | Sarasvati

  • Sarasvati - 50 Tahun Mata Hitam Jeihan

    Seniman-seniman muda yang kami tampilkan di edisi ini tak kalah  menariknya. Proses riset yang dilakukan Eddy Susanto mengantarkan pameran tunggalnya di Galeri Nasional Indonesia layak dicatat. Begitu pula Made Wiguna Valasara yang menyalin karya-karya kanon dunia dengan teknik emboss –

    menjadikan kita berpikir akan batasan dua dimensi dan tiga dimensi. Kiprah perupa muda juga muncul di dua kompetisi seni rupa yang kami ulas di edisi ini; Gudang Garam Indonesia Art Award (GGIAA) dan Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA).

  • Sarasvati - MENIMBANG JEJAK KEMURNIAN  HENDRA GUNAWAN

    Bersama dengan topik tersebut, edisi ini kami juga menampilkan perayaan seabad pelukis maestro Indonesia lainnya, Basoeki Abdullah, yang oleh pihak keluarga ditandai dengan pameran di Museum Nasional dan Rumah Jawa Gallery, diskusi, hingga peluncuran  buku. Sejumlah peristiwa seni lainnya yan

    g menarik untuk disimak  di edisi ini adalah pameran tunggal seniman muda Wisnu Auri di Singapura yang salah satu karyanya menjadi sampul edisi ini. Juga pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam di Galeri Salihara, pameran bersama 37 seniman di Galeri Nasional yang diinisiasi oleh Galeri Canna den

    gan mengangkat tema dekolonisasi Indonesia pasca 1945, dan eksplorasi terbaru yang dilakukan Arin Dwihartanto di pameran terbarunya. 

  • Sarasvati - Seni Rupa Minang | Majalah Sarasvati

    PERTUMBUHAN seni tidak bisa dilepaskan dari keberadaan komunitas yang menyertai dan menunjang aktivitas seni masyarakat. Bahkan kemunculan seniman sering kali terjadi dari hasil kegiatankegiatan komunitas tersebut.   Di Sinilah kita sebagai pembaca seni, perlu kiranya mendukung upaya komunitas-

    komunitas seni di masyarakat local untuk terus hidup dan aktif. Di edisi Agustus 2015 ini kami mengajak pembaca untuk  mengikuti perkembangan komunitas seni di Malang, Bali, dan Padang. Tiga wilayah  ini merupakan penyumbang seniman yang cukup besar di Indonesia.   Banyak seniman-seni

    man ternama Indonesia dari dulu hingga sekarang, datang dari Bali, Padang, dan dari Malang, banyak seniman kontemporer bermunculan. Sayangnya, perkembangan seni kekinian tak sampai ke tiga daerah ini. Bali dan Padang lebih dikenal sebagai produsen seniman yang kemudian merantau ke Jawa dan meraih ke

    suksesan dan popularitas di tanah rantau. Sementara di wilayah asal mereka, perkembangan kesenian – terutama dari sisi market seni kontemporer pun – jauh tertinggal. Padang, misalnya, memiliki masalah di mana di sana tidak muncul kolektor atau galeri-galeri yang bisa memberi ruang dan me

    ndukung pameran-pameran seni rupa.   Tidak adanya dukungan dari pemerintah turut menjadi penyebab di mana saat ini aktivitas seni masyarakat di Tanah Minang sangat tergantung pada komunitas yang tercipta secara mandiri ini.   Kami juga mengulas tentang kerja sama seni antara Korea Selatan

    dan Indonesia lewat pameran Mangu Putra di sebuah galeri di Shanghai bersama seorang seniman senior Korea. Kerja sama lainnya diadakan  Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia (AGSI) dan Korean Cultural Center  yang bertepatan dengan Bazaar Art Jakarta. Pameran yang berlangsung di Art:1 dan Pas

    ific Place ini menandai kerja sama di bidang seni rupa antara Indonesia dan Korea. Kedua pameran ini juga memperlihatkan perkembangan terkini seni patung dan media art kedua negara.   Peristiwa seni menarik lainnya datang dari Salihara yang menggelar pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam di man

    a di sini kita bisa melihat bagaimana seni menafsirkan kembali hasil penelitian ilmiah. Esai dari Nirwan Dewanto tentang hubungan seni dan sains di edisi ini menjadi pengantar menarik bagi Anda untuk memasuki pameran tersebut.   Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - Riset Dalam Seni | Majalah Sarasvati

    INSPIRASI memang diperlukan siapa pun yang bekerja di dunia kreatif dan seni. Namun menunggu inspirasi, bukan lagi metode andalan bagi seniman masa kini. Bahkan kita tahu, Leonardo Da Vinci pun mencipta karya melalui proses riset yang tak jarang ilmiah. Metode ini juga mulai banyak diharapkan bisa d

    ilakukan seniman-seniman dalam berkarya dengan tujuan  tidak hanya supaya bisa menghasilkan karya yang memiliki muatan estetika namun juga mewakili semangat zaman dan tetap  berkorelasi dengan kondisi masyarakat yang ada.   Di edisi inilah diulas tentang riset-riset yang dilakukan sej

    umlah  seniman Indonesia ketika berproses. Berawal dari inspirasi, mereka kemudian mengembangkan riset yang biasanya berupa observasi ke masyarakat. Proses ini mereka lakukan dengan usaha sendiri maupun terlibat dalam program yang disediakan oleh sejumlah institusi. Karenanya, perlu diapresiasi

    juga bagi institusi-institusi yang bergerak dan bahkan menyediakan dana dan fasilitas bagi para seniman yang ingin melakukan riset dalam proses penciptaan mereka. Lewat program-program institusi-institusi inilah, seniman – terutama mereka yang masih emerging – memiliki kesempatan untuk

    bisa mengembangkan diri dan potensi kreatifnya.   Selain seputar riset para seniman, edisi Juli 2015 ini juga membahas hasil perhelatan ART|JOG 8 dan sejumlah peristiwa seni lainnya yang berlangsung bersamaan pada Juni lalu. Layaknya  sebuah festival, selama sebulan penuh, semua tempat sen

    i rupa di  Yogyakarta, baik itu studio seniman, museum, galeri, artspace, bahkan yayasan nirlaba, mengadakan pameran. Karya-karya seniman dipajang bagi publik seni secara terbuka. Kegiatan semacam ini tentu saja harus didukung terutama oleh pemerintah karena tidak hanya memperlihatkan semangat

    kreativitas masyarakat, namun bisa menjadi potensi baru bagi dunia pariwisata.

  • Sarasvati - PERLUASAN MEDIA OK. VIDEO

  • Sarasvati - Potensi Publik Seni | Majalah Sarasvati

    SALAH satu unsur penting yang saat ini mungkin kerap diabaikan dalam makin meningkatnya komersialisasi seni rupa adalah peran penonton. Sehingga kita bisa melihat makin menurunnya tingkat kunjungan public umum di galeri-galeri seni. Akan tetapi sebuah fenomena unik terjadi di Semarang Gallery sejak

    awal tahun ini di mana tingkat kunjungan publik meningkat hingga mencapai 200-an pengunjung  setiap hari. Kedatangan pengunjung tak terpengaruh meski pihak Semarang Gallery sampai harus menerapkan tiket masuk.   Peristiwa seni yang juga mencatat kunjungan publik spektakuler adalah ART|JOG

    dan Pasuruan Art Event. Meski berlokasi di tempat non-seni – sebuah markas militer – Pasuruan Art Event dihadiri 6500-an orang selama sepekan acara. Sementara ART|JOG dikunjungi 100 ribu penonton. Begitu pula yang terjadi pada acara Art & Music Fest Camp 2015 di Bukit Banyak, kota Ba

    tu, Malang, Jawa Timur, yang diadakan Komunitas Pena Hitam, sebuah kelompok anak muda yang menekuni drawing dan kini telah memiliki 9500 anggota dan kantong-kantong komunitasnya telah bercabang ke 12 kota.   Kemunculan publik seni di kota-kota ini tentunya harus disambut positif. Edukasi seni k

    epada publik harusnya bisa lebih digiatkan dengan merangkul komunitas-komunitas di berbagai daerah sehingga tidak menjadikan perkembangan seni rupa terkesan eksklusif dan berorientasi pasar semata. Di edisi Mei 2015 inilah, kami mengulas  tentang perkembangan publik seni di sejumlah kota terseb

    ut.   Selain itu kami juga menampilkan ulasan pameran terbaru dari seniman muda Albert Yonathan Setyawan di Mizuma Gallery yang menampilkan karya-karya hasil pertemuan antara kreativitas dan spiritualitas. Kemudian kami juga mengulas tentang pameran dua perupa senior Indonesia: Herry Dim dan Ha

    nafi di Bandung. Sebagai patron seni edisi ini kami menampilkan sosok Popo Danes yang lewat galerinya, Danes Art Veranda, berhasil mengaktif kan kegiatankegiatan kesenian di Bali.   Selamat membaca,

  • Sarasvati - SANGKUT PAUT PERUPA CEBLANG CEBLUNG | MAJALAH SARASVATI

    PERKEMBANGAN fotografi saat ini telah memasuki suatu masa di mana teknologi begitu menunjang siapa pun untuk bisa mengabadikan momen. Terutama teknologi ponsel yang memudahkan siapa pun memotret secara instan dan dipengaruhi pula dengan keberadaan media sosial yang menjadikan siapa pun bisa mengungg

    ah dan mengabarkan hasilhasil fotografinya untuk dilihat khalayak luas. Era digitalisasi inilah yang sebagian kalangan menilainya turut mempengaruhi kabar  menyedihkan bangkrutnya Rollei, manufaktur kamera ternama dari Jerman.   Bagaimana pun, kita seolah disadarkan apakah fotografi harus

    terkait dengan penggunaan kamera dan apakah kualitas sebuah gambar harus tercipta dari kamera profesional? Pada akhirnya kita diajak bersepakat dengan perkembangan apa pun yang terjadi, bahwa fotografi merupakan karya seni yang seperti halnya matra lainnya dalam seni rupa, melibatkan komposisi, arti

    stik, dan pewartaan kejadian dan peristiwa yang menginspirasi hidup. Inilah yang mengemuka dalam Bandung Photo Showcase 2015 yang diadakan Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung.   Selain pameran di IFI, di edisi ini kami memberitakan tentang Forum Ceblang Ceblung yang terdiri dari sejumlah

    seniman ternama di Indonesia. Forum ini mewakili perkembangan seni kontemporer di Indonesia di mana proses diskusi di antara para seniman secara rutin dan berkala, sangat penting dalam memberi mereka masukan dan wacana dalam berkreasi.   Kami juga mencoba mengarahkan perhatian pembaca kepada pe

    rkembangan seni rupa kontemporer Bali. Di mana di edisi ini, kami mengetengahkan profil Koman Wahyu Suteja, yang telah lama menjadi patron seniman-seniman Bali. Begitu pula dengan kabar pameran terbaru yang dilakukan perupa senior Bali, Nyoman Erawan, yang menggagas dan mengajak publik seni untuk me

    ndedah makna ornamentasi dalam kesenian Bali.   Selamat membaca,

  • Sarasvati - Future Collectors | Majalah Sarasvati

    TELAH menjadi bagian dari komitmen Sarasvati untuk mendukung regenerasi di bidang kesenian dan kebudayaan. Di seni rupa sendiri, salah satu yang perlu dikembangkan adalah kemunculan kolektor muda.   Di negara-negara maju, kemunculan para kolektor terkait dengan banyaknya kegiatan yang mendukung

    apresiasi seni. Museum dan galeri kerap menjadi destinasi wajib anak-anak sekolah.  Apresiasi seni yang meningkat di masyarakat akan memberi implikasi  positif di semua bidang. Terbayang bahwa kemampuan mengapresiasi seni yang meningkat ini akan menumbuhkan ketertarikan kaum muda untuk me

    ngisi kekosongan di bidang wacana, kuratorial, pengkoleksian, pengarsipan, hingga bidang kreatifnya.   Tujuh profil kolektor muda yang kami tampilkan di edisi Maret ini mewakili dukungan kami untuk menumbuhkan rasa percaya diri generasi muda untuk mulai melirik perkembangan seni kontemporer Ind

    onesia. Mereka ibaratnya tunas yang memerlukan dukungan kita bersama untuk kelak bisa menjadi patron yang tumbuh bersama-sama seniman dan mengembangkan infrastruktur seni rupa Indonesia. Karena itulah kami menggambarkan ketujuh profil tersebut dalam sampul depan, sebagai figur-figur yang di masa dep

    an akan menjadi sosok yang utuh dan membentuk warnanya masing-masing. Bukan tidak mungkin salah satu atau beberapa atau semua dari mereka menjadi sosok yang tak kalah dengan patron-patron seni rupa saat ini.   Bersama dengan profil ketujuh kolektor muda ini, kami juga menampilkan sosok Amna W.

    Kusumo yang telah lama menjadi  patron seni pertunjukan Indonesia dan akhir tahun lalu menerima penghargaan John D. Rockefeller 3rd  Award dari Asian Cultural Council atas jasanya mendukung kesenian di Indonesia. Penghargaan atas pencapaian prestasi di bidang seni juga didapatkan Ay Tjoe C

    hristine yang Januari lalu meraih Prudential Eye Award 2015 di kategori seni lukis. Semoga kehadiran sosok-sosok ini menginspirasi kita untuk tak lelah mendukung seni dan budaya Indonesia.

  • Sarasvati - MENGENANG SANG PANGERAN | MAJALAH SARASVATI

    PUBLIK SENI Indonesia pasti masih mengingat betapa besarnya animo masyarakat ketika pada Juni 2012, Goethe Institut Indonesia menyelenggarakan pameran “Raden Saleh dan Awal Lukisan Indonesia Modern” di Galeri Nasional Indonesia. Ketika itu pameran ini mencapai jumlah pengunjung hingga 20

    .000 orang dalam waktu dua minggu. Animo ini memperlihatkan bagaimana masyarakat  kita sebenarnya memiliki perhatian mendalam terhadap karya-karya seni bersejarah.   Karenanya kita patut mendukung upaya Goethe Institut Indonesia untuk menggelar pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran

    Dalam Ingatan Bangsa” yang diadakan di Galeri Nasional Indonesia dari 5 Februari hingga 8 Maret. Pameran ini bertolak dari lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh yang telah berhasil direstorasi yang akan muncul di pameran ini bersama karya-karya maestro Indones

    ia seperti Soedjono Abdullah, Hendra Gunawan, Basuki Abdullah, Sudjojono, hingga Harijadi Sumodidjojo yang semuanya mengangkat sosok Pangeran Diponegoro.   Selain mengulas tentang pameran “Aku Diponegoro”, edisi Februari ini kami juga menampilkan pameran karya Bayu Wardhana dan seju

    mlah maestro Indonesia seperti Affandi dan Henk Ngantung di Galeria Fatahillah dalam tema “Bringing Back the Glory of the Past”. Secara khusus kami mengangkat wawancara eksklusif kami dengan Adeline Ooi, direktur baru Art Basel Hong Kong dan Marc Spiegel,  Direktur Art Basel. Dalam

    wawancara ini, pembaca akan disuguhi  bagaimana strategi keduanya dalam menjalankan Art Basel HongKong tahun ini. Kami juga mengangkat profil arsitek serta kolektor Cosmas D. Gozali yang menarik untuk disimak tentang pendapatnya seputar relasi di dunia properti dan seni visual. Di bidang seni p

    ertunjukan, kami juga mengangkat proses persiapan pementasan Papermoon Puppet Theatre di IFI Yogyakarta pada 26-27 Februari.   Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - KETIKA SENIMAN BUKA STUDIO | Majalah Sarasvati

    Di edisi awal tahun ini kami juga memberi apresiasi khusus bagi Agus Suwage yang dari Desember tahun lalu hingga 12 Januari ini tengah berpameran tunggal di Galeri Nadi Jakarta. Pameran ini patut diulas karena sebagai seniman senior, Agus Suwage mencoba melawan arus dengan mengolah media-media yang

    dinilai sebelah mata oleh pasar. Dengan cara ini, Agus menunjukkan bahwa karya seni tidak sematamata harus dinilai dari sisi ekonomi. Kami juga memuat artikel tentang Art Stage Singapore 2015 yang berlangsung 22-25 Januari yang mencoba membuat terobosan baru dengan melibatkan karya video art yang ma

    sih enggan dikoleksi para kolektor. Secara khusus, art fair ini membuat platform yang dikurasi oleh kurator dari Rusia. Namun di sisi lain Art Stage juga mengejar sisi komersial dengan membuat platform seni modern sehingga para kolektor tak perlu jauh-jauh keluar Asia untuk membeli karya para maesto

    Barat. Di luar bidang seni rupa, kami juga menuliskan tentang penghargaan yang diberikan pemerintah untuk seniman dan praktisi seni pertunjukan yang telah berkarya selama 15 tahun. Dukungan kepada seni pertunjukan sebaiknya tidak berhenti pada pemberian penghargaan namun juga kontinuitas yang menja

    min mereka terus berkarya. Seperti yang dilakukan Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) yang akan mengembangkan tujuh area dan gedung di kawasan Kota Tua untuk digunakan sebagai gedung seni pertunjukan. Semoga artikel-artikel yang kami tampilkan di awal 2015 ini semakin mendorong kita

    untuk lebih mencintai dan mengapresiasi seni budaya. Selamat membaca,

  • Sarasvati - DIMENSI TANPA BATAS PATUNG KONTEMPORER

    Profil edisi ini kami menampilkan sosok Armand B. Arief, Presiden Direktur PT Bank UOB Indonesia. Sudah empat tahun UOB mengadakan kompetisi seni lukis di Indonesia yang para pemenangnya kemudian dikompetisikan di tingkat regional. Tahun ini, Indonesia kembali meraih juara setelah menang pada 2012.

    Kami juga menuliskan profil Edith Widayani, pianis muda pemenang Chopin Competition 2014 di New York, USA. Selain itu juga tampil Ichwan Noor, seniman patung ternama yang dinominasikan Prudential Eye Award 2015.   Semoga artikel-artikel yang kami tampilkan ini mampu meningkatkan dukungan publik

    seni terhadap perkembangan seni dan gaya hidup di Indonesia. Dengan kami sebagai satu-satunya majalah yang mengabarkan seni gaya hidup di Indonesia, kami selalu membuka pintu bagi kritik dan saran pembaca bagi perkembangan majalah ini untuk bisa terus hadir di tahun-tahun mendatang.   Selamat

    membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - Mencari Sosok Manajer Seni

    KETIKA KITA mendatangi apa pun peristiwa seni – pameran, art fair, pertunjukan – siapakah pihak-pihak yang mengelola dan mengemasnya sehingga publik bisa menikmati karya seni? Di sinilah sejumlah perguruan tinggi mulai berpikir bahwa perkembangan seni pada saat ini tak semata-mata m

    embutuhkan produk (seniman dan karyanya), tapi juga pihak yang mengelolanya. Selama ini, pengelolaan seni dilakukan dan dipercayakan dengan pendekatan manajemen pada umumnya. Pelakunya  biasanya mereka yang memiliki kepedulian pada seni, atau seniman itu sendiri yang kemudian karena dihadapkan

    pada situasi dan kondisi, akhirnya mempelajari manajemen secara otodidak. Tentu ini bukan yang ideal. Dimunculkannya Program Studi Tatakelola Seni (Manajemen) Strata Satu (S-1) oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sejak Agustus lalu, pantas didukung. Semoga kemunculannya mampu mendorong per

    kembangan seni ke arah yang lebih positif. Di edisi inilah kami hadirkan tulisan yang membahas kemunculan program studi baru ini, juga tentang masih adanya kekosongan dan kurang perhatiannya institusi seni terhadap bidang wacana dan kritik seni yang sebenarnya bisa memberi manfaat terhadap peningkat

    an kualitas penciptaan karya seni. Kami juga memuat profil-profil pengelola seni yang andal dan telah terbukti kemampuannya, yakni Ratna Riantiarno yang telah mengantarkan Teater Koma sebagai kelompok teater yang mandiri dan sukses dalam manajerialnya selama 37 tahun, dan Linda Hoemar yang berdedika

    si dalam melakukan pengelolaan seni yang bersifat nirlaba. Edisi November ini pada dasarnya memuat figur-figur idealis dan  totalitas di bidangnya. Dari sosok almarhum I Nyoman Sukari yang  semasa hidupnya dikenal sebagai pelukis berkarakter tegas dan unik yang tak mudah melepas karyanya b

    egitu saja kepada kolektor, namun yang terpenting adalah kualitas karyanya yang tiada duanya, begitu ekspresif dan kuat terasa ruhnya. Selain itu juga sosok Benny M. Tanto, pemusik yang bertahun-tahun konsisten menjalani genre gitar klasiknya dan mendanai sendiri konser-konsernya. Kemudian juga Lian

    ny Haryono yang mengambil alih pengelolaan Café Batavia dengan kecintaan yang begitu kuat pada sejarah dan budaya. Dari mereka inilah kita bisa belajar bahwa hidup sebaiknya dijalani dengan semangat totalitas dan keteguhan prinsip yang akan membawa kita pada tujuan yang lebih bermakna.  

  • Sarasvati - Dialog Tubuh Di Indonesian Dance Festival 2014

    Tetap kreatif bagi para seniman, seperti menjadi suatu keharusan yang mutlak. Banyak proses untuk tetap mempertahankan kreativitas ini, namun perjalanannya tak mudah. Meski tak mudah, mereka yang memilih hidup menjadi seniman tak perlu merasa khawatir untuk sendirian dalam proses pencarian inspirasi

    dan kreativitas. Sejak masa Leonardo Da Vinci pun, telah banyak patron-patron yang memberikan ruang, kesempatan, dan bahkan dana bagi para seniman untuk tetap bisa berkarya. Ketika itu, Da Vinci banyak mendapatkan bantuan dari keluarga Medici. Pihak-pihak yang memberi bantuan bagi seniman untuk te

    tap berkarya ini pada perkembangannya tak selalu berasal dari individu. Pada perkembangannya, tercipta sistem yang memunculkan sejumlah institusi yang memang bergerak dan bertujuan untuk memfasilitasi seniman untuk terus kreatif. Salah satu program yang bisa memberi kemungkinan ini adalah program re

    sidensi. Di edisi 11 ini, kami membahas bagaimana program residensi ibaratnya seperti ruang yang memberi asupan kreatif bagi seniman. Selama periode tertentu, seniman akan diajak untuk tinggal di wilayah yang berbeda dari tempat mereka tinggal, berinteraksi dengan lingkungan, melakukan riset, dan ke

    perluan apa pun yang bisa mendorong seniman untuk terbetik gagasan berkarya. Di edisi Oktober ini, kami juga memuat tulisan laporan tentang Gwangju Biennale, pertemuan desain dan seni di Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD), pameran Bandung New Emergence, hingga pameran perupa kenamaan kit

    a, Nasirun, di Mizuma Gallery, Tokyo, Jepang dalam rangka ulang tahun Nasirun ke-51. Kami juga mengulas secara khusus perhelatan Indonesian Dance Festival yang tahun ini tampil dengan logo baru dan konsep menarik yang menekankan pada kolaborasi – baik itu multi disiplin maupun antar negara. Pr

    ofil-profil yang ditampilkan di edisi ini juga memperlihatkan kiprah dan prestasi gemilang mereka di dunia seni, yaitu Nungki Kusumastuti dan Ananda Sukarlan. Keduanya telah berhasil memajukan seni tari dan seni musik Indonesia di ranah internasional. Mulai edisi ini pula, kami secara rutin menampil

    kan kolom bertajuk Sangkur dari kurator senior Indonesia, Jim Supangkat yang memberikan kita wawasan dan wacana kritis kita terhadap perkembangan seni dan budaya.

  • Sarasvati - ART Vs Art Di Ruang Publik

    REGENERASI tidak hanya diperlukan dunia seni di kalangan seniman atau kreatornya saja. Kita pun harus memikirkan bagaimana regenerasi bisa terjadi di kalangan publik dan apresiator. Terutama untuk bidang seni visual dan pertunjukan yang tidak populer di kalangan muda. Proses penambahan jumlah penont

    on seni masih terasa kurang, terlihat sekali dari seringnya kita bertemu dengan figur itu-itu saja hampir di setiap peristiwa seni.   Melihat sejumlah mal mulai memajang karya-karya seni di tempat mereka, perlu kita apreasi secara positif. Terlepas dari sejumlah kekurangan dari sisi display, ke

    amanan, dan juga sistem kurasinya, perlu lebih banyak ruang-ruang publik yang menampilkan karya dan pertunjukan seni secara berkala bagi pengunjung. Dengan cara ini, mereka yang awam bisa mulai familiar dengan peristiwa peristiwa seni dan kebudayaan dan dari sini akan muncul rasa cinta.   Di ed

    isi September ini, kami memberi highlight kepada ruangruang Public tersebut misalnya Ciputra Artpreneur, Pacific Place, Plaza Indonesia, dan Galeri Indonesia Kaya yang memberi ruang  bagi karya-karya seniman. Figur-figur seperti Eddy Sugiri dan Renitasari Adrian di edisi ini juga bisa menjadi c

    ontoh bagaimana keduanya mencoba memperluas bertambahnya publik seni.   Selamat membaca,   Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - Antara Seniman & Pemilihan Presiden

    Dari Meja Redaksi   SEBULAN TERAKHIR adalah masa-masa yang paling mendebarkan dalam panggung politik Indonesia. Tak pernah sebelumnya pemilihan presiden menyita tenaga, pemikiran, dan juga emosi. Keadaan ini tentu tak luput ditangkap oleh seniman Tanah Air. Kita melihat masifnya dukungan terbuk

    a mereka. Ada yang membuat konser, video, poster, dan masih banyak lagi. Pesta demokrasi benar-benar menjadi hajatan bersama. Sarasvati menghadirkan potret fenomena menarik tersebut dalam edisi ini.    Bagaimana politik ditangkap dan ‘dimainkan’ bisa kita lihat pada karya Agan

    Harahap. Ia, misalnya, membuat seri kartu pos Jokowi – JK dengan berbagai selebritas dunia. Karyanya yang subversif jenaka memaksa kita menanyakan banyak hal, terutama seberapa cermat nalar kita sendiri bekerja.   Sarasvati percaya apa pun hasil pemilihan, rasa persaudaraan dan kebersamaa

    n kita sebagai bangsa akan semakin menguat. Maka, menarik pula menyimak bagaimana perjalanan Sakato, kelompok perupa dari Minangkabau di Yogyakarta, membangun dan mengelola organisasi mereka, termasuk bagaimana sebuah keluarga menyikapi pilihan ekspresi yang berbeda-beda.   Selamat membaca. Sye

    nny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - Retrospektif Heri Dono Sang Wayang  Pengembara

    Dari Meja Redaksi   EDISI JULI 2014 ini adalah kali kedua kami hadir dengan format baru. Setelah penerbitan edisi Juni lalu, kami mendapatkan banyak tanggapan terkait isi maupun tampilan. Kami gembira dan sangat berterima kasih, masukan pembaca adalah bekal penting kami untuk selalu memperbaiki

    diri.    Sebagai majalah seni budaya, kami sadar bahwa Sarasvati harus hadir di tengah-tengah komunitasnya. Komunitas-komunitas adalah prasyarat mutlak keberlangsungan majalah ini. Tanpa mereka sebagai sumber berita sekaligus pembaca, kami akan sulit tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu

    , secara rutin kami mengundang teman-teman Sarasvati menjadi kontributor. Mereka bukan saja cakap di bidang mereka, melainkan juga menjadi wakil kehadiran kami di berbagai kegiatan.    Untuk edisi ini, misalnya, kami mengundang penulis senior Bambang Bujono untuk menulis pameran retrospeks

    i salah satu seniman kontemporer terpenting Indonesia saat ini, Heri Dono. Pengalaman panjang Mas Bambu, demikian ia biasa disapa, memungkinkannya menghadirkan bacaan utuh mengenai karya-karya Heri. Kami juga meminta Robin Hartanto, anggota tim kurator Paviliun Indonesia untuk Bienial Arsitektur Ven

    esia 2014, menuliskan pengalaman langsung dan pemikirannya mengenai keikutsertaan pertama kali Indonesia di ajang bergengsi tersebut.  Untuk melengkapi tulisan mengenai acara arsitektur dua tahunan ini, kami meminta Farid Fakun, dosen arsitektur di Universitas Indonesia, memberikan opininya.&nb

    sp;   Selamat membaca.   Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - Mesin-mesin Masa Depan Arbotics

    Surat Redaksi   WAJAH BARU, tim baru, dan semangat baru. Pembaca yang budiman, mulai Edisi Juni 2014 ini kami berganti format. Bila sebelumnya Sarasvati mengkhususkan menulis tentang seni visual, sekarang kami menghadirkan juga ulasan tentang seni pertunjukan, cerita perjalanan, petualangan kul

    iner, Kota Tua, mode, komunitas yang memikat, agenda seni, dan masih banyak lagi. Kami juga akan hadir setiap bulan sekali.   Perubahan ini kami ambil karena begitu banyak kegiatan seni budaya yang terlalu berharga untuk tidak diapresiasi. Pada saat yang bersamaan, perubahan ini adalah kesempat

    an bagi kami untuk belajar banyak hal baru. Ke depan, kami ingin Sarasvati bisa menjadi panduan terpercaya bagi pecinta seni budaya, barometer bagi  kegiatan dan pelaku seni, sekaligus forum pertukaran pemikiran yang mengasyikkan.   Meskipun cakupan kami meluas, seni visual tetap mendapatk

    an porsi besar di Sarasvati. Untuk edisi ini, kami antara lain menghadirkan perkembangan seni kinetik di Tanah Air, keikutsertaan galeri Indonesia di Art Basel in Hong Kong 2014, dan juga bagaimana Kota Magelang menjadi titik penting pada peta seni rupa. Sementara, untuk seni pertunjukan, kami menam

    pilkan profil seniman tari senior Dedy Lutan dan tinjauan persiapan pertunjukan beberapa seniman.    Mengingat maraknya kegiatan seni budaya di Indonesia dan kawasan, kami sadar bahwa sebuah majalah yang terbit bulanan tak akan bisa menangkap utuh dinamika ini. Oleh sebab itu kami juga men

    gubah tampilan situs kami, www.sarasvati.co.id, untuk menjawab tantangan ini. Di sana, pengunjung bisa mendapatkan info terbaru agenda acara hari ini, pekan ini, dan juga bulan ini. Selain itu, kami juga menghadirkan artikel dan tayangan video yang dikemas untuk on-line.     &nbs

    p; Selamat menikmati perjalanan baru kami.   Syenny Setiawan Publishing Director

  • Sarasvati - PROBLEM PENDANAAN SENI

    Surat Redaksi   Pada Maret ini, proyek perdana Jakarta Endowment for Art and Heritage (JEFORAH) dan Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dengan tajuk “Fiesta Fatahillah”, diluncurkan dan diharapkan bisa memulai tercapainya misi untuk terevitalisasinya kawasan Kota Tua

    yang bersejarah tersebut. Untuk mendukung kegiatan tersebut, edisi keenam Majalah Sarasvati mengulas tempat dan kawasan yang berhasil tersegarkan kembali. Di antaranya kita bisa menengok kesuksesan Negara tetangga, Singapura, yang berhasil merombak bangunan-bangunan lama menjadi galeri, museum, dan

    tempat-tempat kegiatan seni yang asyik, modern, dan mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah negara tersebut juga berhasil mempromosikan kawasan-kawasan tersebut dipadukan dengan acara-acara seni yang berhasil menarik minat wisatawan.   Kami juga membahas tentang produk-produkkreatif yang dibu

    at oleh seniman, yang nantinya juga akan dihadirkan di Jakarta Contemporary Art Space – tempat baru yang didirikan oleh JEFORAH  dan JOTRC untuk mewadahi kegiatan-kegiatan seni rupa kontemporer di Indonesia. Di Art Space yang bertempat di Kantor Pos Fatahillah tersebut, dipamerkan karya 4

    7 seniman kontemporer Indonesia terkemuka saat ini yang berlangsung selama enam bulan dari 13 Maret 2014 tepat pada saat acara "Fiesta Fatahillah”. Dengan keberadaan produk-produk kreatif tersebut bersanding dengan karya-karya seni yang dipamerkan, publik bisa menikmati dan mengapresiasi

    keduanya. Tak hanya itu, produk kreatif ini sekaligus menjembatani keinginan publik untuk bisa mendapatkan karya sang seniman dengan harga yang lebih terjangkau. Bagi seniman sendiri, mereka membuat produk-produk berkarakter cendera mata ini juga untuk menjangkau publik yang lebih luas.   Edisi

    ini juga membahas tentang kondisi pendanaan seni di Indonesia. Selama ini, para seniman masih memiliki kendala dalam mendapatkan perhatian pendanaan. Kondisi ini salah satunya dikarenakan belum adanya peraturan pemerintah yang mendukung pemberian dana bagi dunia seni. Dalam Peraturan Pemerintah (PP

    ) Nomor 93 Tahun 2010, seni tidak didefinisikan sebagai sektor utama yang patut didanai, terpinggirkan oleh sektor Bencana Alam, Penelitian dan Pengembangan, Fasilitas Pendidikan, Pembinaan Olahraga, dan Infrastruktur Sosial. Karena itulah patut kita dukung upaya Koalisi Seni dan sejumlah pihak untu

    k melakukan lobi kepada pemerintah supaya bidang seni bisa lebih mendapat perhatian.   Syenny Setiawan Publishing Director

  • Sarasvati - CATATAN PERJALANAN KARYA SITE SPECIFIC DI INDONESIA

    Surat Redaksi   Karya-karya dengan “media baru” dari seni rupa “kontemporer”  –  atau untuk mudahnya sebut saja media yang “bukan” seni lukis dan seni patung konvensional dalam pengertian seni rupa “modern”—  kini makin

    diapresiasi masyarakat luas dunia. Seniman Indonesia yang muda-muda, seperti Tintin Wulia (lahir 1972), Venzha Christiawan (lahir 1975), dan Jompet Kuswidananto (lahir 1976) – yang profil ketiganya dimuat di majalah seni rupa Sarasvati edisi yang sedang Anda baca ini – kini sudah sering

    kali hadir di pameran-pameran kelas dunia yang bergengsi, dengan karyakarya mereka yang medianya tak lagi konvensional.    Itu di belahan dunia yang lebih condong kuat ke arah artistic value, sementara di bagian yang lebih dekat dengan economic value ternyata juga tampak gejala yang sama.

    Coba perhatikan daftar “500” karya perupa kontemporer termahal dari Artprice dengan data paling mutakhir (2013). Betapa dalam daftar berderet banyak karya mahal di balai-balai lelang yang tidak lagi berbentuk lukisan ataupun patung dalam pengertian yang konvensional, yang antara lain per

    nah dibahas secara khusus di majalah Sarasvati edisi ke-3. Nah, dalam Sarasvati edisi terbaru yang sedang Anda baca ini, kami juga memuat artikel tentang seniman kontemporer Indonesia yang harganya mulai menanjak di “balai-balai lelang” karena karya-karya mereka secara kreatif (atau seca

    ra symbolic value atau estetik value) telah menjelajah ke “medium-medium baru”; yang juga telah diapresiasi oleh para pencinta seni di berbagai belahan dunia.   Mereka antara lain “muka lama” yang tak henti menciptakan karya baru dengan medium baru pula (antara lain beru

    pa relief yang terbuat dari bahan guntingan pelat aluminium yang kemudian dicat duko): Entang Wiharso (lahir 1967). Atau Eko Nugroho (lahir 1977) yang karya seni lukisnya setara dengan karya tapestry-nya (tapestry adalah jenis tenunan). Juga karya “duet” Indiguerillas (lahir 1975 dan 197

    7) yang antara lain memanfaatkan tema folklore Jawa yang secara visual dihadirkan dalam media-media yang “bukan kanvas”. Atau Arin Dwihartanto (lahir 1978) yang “melukis” dengan pigmen, resin, bahkan dengan debu letusan gunung berapi. Tapi harga-harga karya mereka di balai-ba

    lai lelang internasional kini telah memecah kebekuan yang diakibatkan oleh “krisis finansial global” di tahun 2008. Sementara harga dari banyak rekan mereka yang “tidak kreatif” masih dalam keadaan “koma” sejak krisis tersebut di atas.   Tentu saja masih bany

    ak fenomena baru dalam kehidupan seni rupa kontemporer yang bisa Anda simak dalam majalah ini – yang mulai edisi pertama tahun 2014 ini kami hadirkan dalam bahasa Indonesia, karena riset yang kami lakukan berkesimpulan bahwa langkah itulah yang perlu kami ambil untuk lebih memuaskan Anda semua

    , mayoritas pembaca.   Syenny Setiawan Publishing Director

  • Sarasvati - BIENNALE AS ART EXPOSURE

    Letter from The Publisher   As we approach the end of 2013, a number of Indonesian arts events await us. Among the key visual arts events to watch out for are three art biennales, all beginning in November, some of them continuing on to next year.   Jogja Biennale (16 November 2013 &n

    dash; 6 January 2014), the 15 and the 5 Jatim Biennale (28 November – 11 December 2013), we can observe the artistic and creative achievements of our artists in much more intense forms compared to the usual Art Fairs that tend to focus on market needs.   An interesting development is how

    the three biennales seem to provide comparative studies on artistic achievements in the cities that play vital roles in the development of Indonesian visual arts, namely Yogyakarta, Jakarta and Surabaya. Not merely a platform for exhibiting the work of participating artists, the Biennale format has

    become a testing ground for challenging concepts.  Mid (NOVEMBER 2013 – JANUARY 2014)   The Jogja Biennale, for instance, has elected to explore the artistic linkages and relationships  between Indonesia and the Middle East, while the Jakarta Biennale is taking place without cur

    atorial work as an effort to question the very basis of visual art events organization.  Furthermore, the concept of public-space-intervention is proposed at the Jakarta Biennale. Hence, the participating artists will appear in rather unusual settings. The issue of art loci is also a hot topic

    of this fourth edition, highlighting the attempts of a number of commercial spaces, namely hotels and restaurants, in shifting street art from open public spaces into elements of interior design or the exterior of a building.   This edition also includes an analysis of the results of Christie&r

    squo;s first Shanghai auction, a groundbreaking event where, for the first time, a foreign auction house has managed to open a branch and operate independently in Mainland China. This can be seen as another acknowledgment of how China has become the most powerful market place in the world. This four

    th edition also introduces some of Indonesia’s prominent collectors who hold the key in protecting the legacy of our art works.   We hope you enjoy reading this issue,   Syenny Setiawan Publishing Director

  • Sarasvati - REALITY OF  NEW MEDIA ARTS IN THE INDONESIAN ART MARKET

    Letter from The Publisher   Like other elements of culture, such as science and technology, politics and the economy, the arts continually evolve with the times. New definitions of art emerge, which open alternative horizons and  add fresh insights, without negating or destroying the previ

    ous ones.  As also happens in the world of science and technology, of course. For example: it's long been proven that the earth is round, like a ball, which makes it impossible to draw a straight line across it. Nevertheless, it's essential to hold onto the concept of straight lines in

    everyday life – for instance, in the field of architecture.   So, even as the artistic media of painting, sculpture, printmaking, or ceramics have continued to develop, from antiquity to the modern period and even the contemporary era, the phenomenon known as new media art has emerged and

    evolved, continually expanding its  presence, moving forward, and re-defining itself. And the fact is, although the art market  up to now is still dominated by paintings, new media artworks are gaining increasing appreciation among collectors, galleries, and museums, and are often valued

    even higher, financially, than contemporary paintings.     In this third edition, with new media art as our main topic, Sarasvati magazine aims to reveal the intricacies and intersections of the various discourses that have emerged, along with fresh examples of new media art developme

    nts in the contemporary arts of Asia, including Indonesia, China and India. We have deliberately chosen to steer clear of familiar old figures who are already well known, so that readers can get wind of fresh new developments – rather than those that are already stale. For example, for experim

    ental artists in the domain of new media art in China, Sarasvati hasn't highlighted Cai Guoqiang, Gu Wenda, Huang Yong Ping, or Xu Bing, but rather Shen Shaomin, whose creativity is blooming. And for India, we haven't focused on Subodh Gupta or Nalini Malani, but on Shubha Taparia, Kiran Sub

    baiah, the duo Jiten Thukral and Sumir Tagra, and Tejal Shah.   Happy reading! We hope you'll enjoy exploring new media art with us.   Syenny Setiawan Publishing Director

  • Sarasvati - ESTABLISHED VS EMERGING ARTISTS

    Letter from The Publisher   our 2nd edition of Sarasvati art magazine, if we might say, is a comparison issue. Through various articles written in various sections, readers are exposed to a diverse of realities in various "art world" in the same subject, so we can compare and gain kno

    wledge from this matter.   Look at, for instance, how the Indonesian art community commemorates their art heroes’  anniversary,  the prominent "old-masters", in the 100 years of S. Sudjojono and Lee Man Fong event - which actually could be a momentum to promote their p

    ersona in the global sphere. Lets compare it with the 400th anniversary of the old-master Rembrandt van Rijn in 2006 in the Netherlands. Of course, there may be a claim that the comparison was not "apple to apple". But, at least the Indonesian art society can reflect whether the treatment

    for their arts heroes is "proper and appropriate yet".   In other section, Sarasvati also offers some articles on reviews of - aesthetic discourse and art market - for some prominent "emerging artists" in a number of Asian countries such as China, India, Korea, and Indonesia

    .   Then, after Indonesian Pavilion at the Venice Biennale review in our previous edition, Sarasvati highlights the pavilions of other Asian countries attending the 55 Venice Biennale in this edition.   Of course, there are other interesting articles that we select after setting aside the

    themes that are less important and relevant to Asian art society these days.   Happy reading! Syenny Setiawan Publishing Director

  • Sarasvati - THE GREAT WALL OF THE CHINESE ART MARKET

    Letter from The Publisher   I n the art world — especially in the art market — that has increasingly become more complex and sophisticated, everyone feels the need for more information in order to avoid buyer remorse.   As we know in the contemporary art world, the art market h

    as expanded rapidly in the past 15 years. It all began from the economic boom in the USA and in Europe, as well as the rising of the Asian tigers. With that, a new emergence of buyers have grown up with styles of abstract expresionism and American pop art, with an artistic taste (in fashion, design,

    architecture, and art) that is different from the previous generation. In addition to that, the general acceptance of art as an alternative asset class increases speculation, which in turn creates instant collectors with a nouveau riche lifestyle and mentality with no intention to collect intellect

    ually. They only seek artworks that are trend driven, or take advantage of investment opportunities.  Because of this, they “collect” based upon “listening”  to other opinions, which is easily manipulated.   Maybe the opinions of the middlemen are “true&r

    dquo;, but often they immediately believe that if it’s true today, it’s true forever and with the same belief: if the price increases, it will continue to increase.   Unfortunately, that is not always the case. At the time of the global financial crisis hit in 2008, the contemporary

    art market underwent a huge price correction, many were stunned, and realized that they actually needed more information prior to investment. It is based on that need, we have decided to publish Sarasvati art magazine, a publication that will provide information on contemporary art in Asia by under

    lining art market analysis, and combining it with its economic and symbolic values.   To ease costs and distribution, we have decided to focus the magazine as an online publication, meanwhile the printed copies will be produced for special occasions on a limited basis. We hope that our publicat

    ion will empower our readers in making well informed decisions in collecting or investing in art.   Happy reading! Syenny Setiawan Publishing Director

LOAD MORE