REGISTER NEW ACCOUNT

By signing up, I agree to Myperpus Terms and Condition

Register with Facebook


Clara | Proudly Indonesia - Fashion Week | Clara Magazine

Fashion Week | Clara Magazine

clara | proudly indonesia

Published by PT Livimbi Media

Category: Home, Living & LifeStyle

Edition : Maret 2015

Pages : 172

ISBN : 9-772086-927458

Published : 01 Mar 2015

SAVIOR

Seiring dengan bertambahnya usia, bertambahnya berat badan menjadi tidak terhindarkan. Terima kasih saya kepada warna hitam yang tidak pernah meninggalkan dunia fashion. Juga brand high heels yang tidak pernah berhenti  berinovasi baik dalam model maupun kenyaman. Apapun warna yang menjadi primadona, hitam selalu menjadi  andalan. dan jika fashion diharapkan berperan sebagai media penyelamat penampilan, maka hitam dan high heels shoes adalah penyelamat saya.

 

Bagaimana dengan anda?

IDR 6.880,00

RELATED READS

  • Clara | Proudly Indonesia - HALU 2015 | CLARA MAGAZINE

    setinggi langit atau halu?“ Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Itu yang kerap dikatakan orang. sejak zaman saya kecil sampai saat ini, nasehat itu belum juga kadaluwarsa. kita diajarkan untuk berani ber mimpi. diajarkan untuk berani memiliki cita-cita tinggi. namun yang kadang terl

    ewat adalah pengetahuan tentang seberapa besar peluang cita-cita tersebut mungkin terwujud, dan kalau mungkin, bagaimana cara mencapainya. Tentunya bukan hanya dengan menasehati agar selalu rajin dan tidak mudah putus asa. Jika tidak semua dari kita mendapat pengetahuan tentang bagaimana mewujudkan

    cita-cita, maka dapat dipastikan lebih banyak lagi yang tidak tahu apa yang harus dilakukan jika cita-cita tersebut tidak tercapai. mencari kompensasi adalah hal yang biasa terjadi. Bisa dengan mengalihkan cita-cita, tapi tidak sedikit pula yang mengalihkan kesadaran, alias sama sekali tidak mengang

    gap diri gagal.  

  • Clara | Proudly Indonesia - NOWHERE IS SAFE | CLARA MAGAZINE

    is there any safety in this world? Dunia yang kita tinggali sendiri saat ini sangat lah berbeda dengan dunia yang sama bertahun-tahun yang lalu. kekerasan yang terjadi menjadi semakin menggelisahkan dengan adanya media sosial. Tidak sedikitpun saya bermaksud menghujat keberadaannya, namun tidak dapa

    t dipungkiri bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Kondisi yang menurut saya memang tidak kondusif ini memang menjadikan segalanya menjadi terasa lebih menakutkan. namun, bagi saya hanya menjadi ketakutan bukan pilihan.‎melawan rasa takut adalah satu-satunya pili

    han. Dan saya percaya itu hanya bisa didapatkan Dari dalam diri sendiri. Rasa aman hanya ada dalam diri kita masing-masing.    

  • Clara | Proudly Indonesia - Rules Are Meants To Be Broken | Clara Magazine

    EvErything Has a rEason Ibu saya selalu bilang, pamali memberikan cermin atau minyak wangi pada seseorang. Sedangkan Nenek saya, pamali itu duduk di depan pintu. Merayakan atau pun memberi selamat ulang tahun sebelum waktunya juga dianggap pamali. Begitu pula jika di piring makan saya masih tersisa

    makanan. Dan yang namanya pamali, tentunya saja ada konsekuensi yang harus ditanggung. Mulai Dari yang sesepele punya pacar jerawatan, berat jodoh, sampai yang lebih menyeramkan seperti pendek umur. Apakah saya takut? Sangat! Tentunya Waktu masih kecil. Meskipun perut rasanya sudah sangat penuh, tap

    i saya ngotot membersihkan isi piring saya. Daripada punya pacar jerawatan. Saya juga Lebih memilih kegerahan setengah mati daripada tidak dapat jodoh gara-gara ngotot duduk di depan pintu tempat angin terasa menyejukkan.    

  • Clara | Proudly Indonesia - SEX Tember ISSUE

    Tak Kenal, Maka Tak Sayang Bahwa memiliki hubungan sexual adalah kebutuhan dasar manusia, saya yakin kita semua sudah tahu.  Selayaknya kebutuhan akan makanan. Namun berbeda dengan makanan, pembicaraan soal sex tidak selalu bebas. Terutama  dalam budaya Timur.  Meski harus diakui jika

    dibandingkan sekitar 10 tahun yang lalu saat ini kebanyakan masyarakat kita sudah lebih terbuka.    Banyak hal yang menjadi alasan mengapa untuk sebagaian orang sex adalah sesuatu yang dianggap tabu untuk dibicarakan sementara yang sebagian menganggap membicarakn sex tidaklah tabu sama se

    kali. Saya yakin setiap pribadi memiliki alas an sendiri mengapa sex bukanlah sesuatu yang pantas dibicarakan dengan bebas. Sama yakinnya dengan pendapat sebaliknya. Untuk saya sendiri sex bukanlah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.   Namun waktu, tempat, lawan bicara, juga bagaimana cara mem

    bicarakannya memang harus menjadi perhatian. Selebihnya, sex memiliki hak yang sama dengan hal-hal lainnya untuk dibahas. Jika kita dengan bebas membicarakan aneka makanan Dan tempat makan seru, mengapa kita tidak dapat memperlakukan pembicaraan mengenai sex dengan sama. Keduanya samasama kebutuhan

    dasar manusia. Keduannya sama-sama diharapkan memberi kesenangan. Tidak membicarakan sex tidak membuat kebutuhan akannya berkurang, apalagi berakhir. Perkembangan bisnis dunia sex Membuktikan hal tersebut. Menabukan pembicaraan mengenai sex tanpa alasan yang jelas alias membabi buta malah dapat menj

    adi bumerang. Saya jadi ingat zaman komunisme merupakan kata paling terlarang. Bahkan menyebutkannya saja dapat membuat panik mereka yang mendengar. Seperti Menyebutkan Voldemort dalam kisah Harry Potter. Pengetahuan yang keliru Biasanya menghasilkan kekeliruan lainnya. Belum lagi ditambah dengan an

    eka bumbu-bumbu yang  biasanya menambah sensasi tapi menjauh dari kebenaran.   Tak kenal maka tak sayang memang bukan sekedar pepatah kosong. Dalam hal sex ini, saya percaya bahwa pengetahuan yang benar akan membantu membentuk sikap yang tepat.   Dan sama seperti semua hal lain di dun

    ia ini, kebenaran hanya dapat diperoleh dengan adanya keterbukaan, terutama pemikiran. Merupakan pilihan kita masing-masing, seberapa besarnya keterbukaan pikiran yang dimiliki, sebesar itu pulalah kebenaran yang akan didapat.  

  • Clara | Proudly Indonesia - ANNIVERSEVEN

    Jika mendengar kata tujuh atau seven, apa yang terlintas di kepala Anda? Mulai dari Tujuh Keajaiban Dunia, Seven Deadly Sins, Seven Years Itch, Magnificent Seven, sampai mungkin Tujuh Kurcaci Snow White.  Angka Tujuh memang istimewa. Bagi saya, terutama untuk tahun ini. Tujuh tahun sudah majala

    h CLARA hadir. Tujuh tahun sudah majalah CLARA  mengisi hari para pembaca, sahabat, dan para partner bisnis.   Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, meski relatif baru di kalangan rata-rata majalah gaya hidup lainnya. Sejak pertama kali terbit, banyak sudah perubahan, evolusi menurut k

    amus saya, yang terjadi. Mulai dari yang kasat mata seperti format dan lay out, maupun yang tidak nyata terlihat, seperti spirit dan soul dari  majalah CLARA sendiri. Begitu pula dengan anggota tim yang terlibat di dalamnya. Sebagai salah satu orang yang ada sejak awal, saya juga ada di setiap

    bagian evolusi yang terjadi.    Dalam kesempatan ini saya secara pribadi mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada sahabat, partner, dan mentor saya, Samuel Mulia atas semua kesempatan, keyakinan, maupun dukungan yang tidak berkesudahan. Terima kasih juga kepa

    da setiap pribadi yang pernah maupun yang masih menjadi bagian dari tim ini. Begitu pula kepada Lilys Kho dan Entong Nursanto, juga kepada Belly Budiman dan Lionto Gunawan atas kepercayaan yang sudah diberikan. Dan saya, Mewakili seluruh anggota tim majalah CLARA juga ingin mengucapkan terima kasih

    kepada seluruh pembaca, sahabat, dan partner bisnis kami. Keberadaan majalah CLARA hari ini hanya bisa terjadi kerena semua bentuk dukungan yang telah diberikan, selain tentunya anugerah Tuhan YME.     Melalui tulisan ini pula, dengan penuh kegembiraan dan kebanggaan saya mengumumkan bahwa

    untuk pertama kalinya majalah CLARA memiliki Reza Bustami sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. Sebelumnya Reza Menempati posisi selaku Redaktur Pelaksana dengan Adrian Prambudi saat ini sebagai penggantinya. Semoga kegembiraan dan kebanggaan saya juga membawa kebaikan bagi kita semua.     Saya

    pernah mendengar, if a friendship last longer than seven years, it will last a lifetime. Dan karena yang menyatakan adalah para psikolog, yang notabene ahli di bidang kemanusiaan tidak ada salahnya bagi saya untuk percaya, bukan?    Sekali lagi, terima kasih kepada semua pihak baik yang p

    ernah, masih ataupun akan terkait dengan Keberadaan majalah CLARA untuk segala bentuk atensi yang diberikan di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang.   Salam, Virginia Rusli Pemimpin Redaksi

  • Clara | Proudly Indonesia - W T F ?! Where's The Food?!

    NOT A GIRL FOR ALL SEASONS Mau cobain gudeg enak?” tanya seorang teman waktu saya sedang heboh membicarakan menu sarapan di Bandung, seminggu lalu. “Mau dong. Dimana?” Tanya saya antusias. “Udah, gampang. Biar saya suruh supir beliin besok pagi. Terus,  kepingin apa lagi

    ? Bacang? Lumpia?” Semuanya menarik, semuanya mau.   Alhasil pagi keesokan harinya saya sarapan dengan beraneka jenis makanan dari berbagai macam tempat. Gudeg dari Pasar Baru, Lumpia Semarang dari Badak- singa, juga bacang dari Purnama. Beraneka makanannya, beragam lokasinya. Bukan hanya

    karena berbeda makanan berbeda tempat, tapi juga karena hampir tidak ada tempat yang semua makanannya memiliki tingkat kelezatan yang merata. Kalaupun ada, bagaimana dengan tempatnya sendiri. Cukup nyamankah? Bagaimana dengan service-nya? Memuaskan atau malah mengecewakan.   Sesungguhnya tempa

    t makan, baik warung sampai fine dining restoran, sangat menyerupai manusia. Tidak ada yang sempurna. Nyaris adalah tingkat tertinggi bagi kesempurnaan seorang. Dan jika saya bisa dengan santai menghadapi ketidaksempurnaan sebuah tempat makan serta rela “membuang” waktu juga tenaga untuk

    ber-usaha mendapatkan makanan dari berbagai tempat demi mendapatkan yang terbaik, kenapa saya harus menjadi senewen ketika harus menghadapi kenyataan atas ketidaksempurnaan sesama manusia?   Tidak sedikitpun terbersit dalam pikiran untuk menghina melalui penyamaan antara tempat makan dengan ma

    nusia. Saya hanya terpikir tentang quote “Not a girl for all seasons”. Seperti itulah kita manusia dan seperti itu pulalah sebuah tempat makan. Yang terpenting bagi saya adalah mengentahui dimana yang terbaik berada.  E njoy our food, enjoy our life.   Salam, Virginia Rusli Pem

    impin Redaksi

  • Clara | Proudly Indonesia - Not Happy Here, Not Happy There

    NEVER SAY NEVER? Minggu lalu saya mendapat ajakan cukup mendadak dari seorang teman untuk mengunjungi  Food and Hotel Asia (FHA) Expo di Singapura. Hanya perlu 10 menit untuk mengiyakannya, itupun karena suami saya tidak langsung menjawab   BBM minta izin yang saya kirimkan. Belum pernah m

    engun-jungi FHA Expo adalah alasan pertama, perjalanannya hanya satu hari. Pulang pergi adalah alasan kedua, dan negara tujuannya adalah alasan pamungkas yang justru paling meyakinkan saya untuk dengan senang hati bergabung. Meski saya yakin banyak orang (termasuk saya) yang berpendapat bahwa Singpu

    ra memang cuma begitu-begitu saja, namun saya harus mengakui bahwa kunjungan ke negara tetangga itu selalu menyenangkan. Hanya dengan terbang selama 1,5 jam, suasana berbeda dapat segera dirasakan. Meskipun berada di sana lebih dari tiga malam bukan juga merupakan pilihan yang menarik. Selain itu sa

    ya juga percaya, tidak peduli berapa kalipun kita mengunjungi tempat yang sama, selalu akan ada hal baru yang ditemukan.   Seperti kunjungan terakhir saya, selain mengunjungi FHA Expo untuk pertama kali, saat itu juga kali pertama saya pergi ke Singapura dengan seorang teman yang mengisi penuh

    koper besarnya dengan berbagai macam bahan makanan. Daging sapi, daging ayam, aneka bakso dan ikan. Lupakan brand-brand mewah kelas dunia yang dapat mengintimidasi seseorang (hanya dengan papan nama mereka). “Brand-brand itu hampir semuanya ada di Jakarta, tapi bahan-bahan makanan dengan kuali

    tas yang bagus, susah carinya,” itu penjelasannya.   Saya memiliki daftar tentang berbagai tempat di dunia. Ada daftar tempat yang selalu dengan senang hati saya kunjungi, Singapura ada di dalamnya, tapi ada pula daftar tempat yang tidak ingin saya kunjungi, setidaknya sampai hari ini. Se

    jujurnya baik urutan maupun posisi yang ada sering berubah-ubah. Plinplan, kata orang. Dinamis, kata saya. Namun se-plinplan-plinplannya, maupun sedinamis-dinamisnya saya, ada beberapa tempat yang tidak pernah tertarik Saya kunjungi. Bukan karena tempatnya, namun lebih karena sayanya.   Pemanda

    ngan alam okelah, namun pemandangan kota jauh lebih menarik. Berjalan kaki keliling kota masih dapat saya nikmati, tapi berjalan kaki turun naik bukit dan menyusuri pantai sepertinya bukan untuk saya. Not my cup of tea. Mungkin saja suatu saat nanti saya berubah, jadi lebih mencintai gunung, danau,

    laut dan padang pasir. Namun saat ini, bangunan-bangunan heritage, gedung-gedung pencakar langit, dan toko-toko masih lebih menarik bagi saya. Saya masih kurang bisa membayangkan apa yang harus dilakukan di tempat-tempat yang  hanya “menjual” keindahan alamnya. Setidaknya, saya yaki

    n, ada yang bisa dibawa pulang jika kita berkunjung ke sebuah kota (meskipun sampai sekarang saya  masih agak “bingung” dengan belanjaan teman saya).   Salam, Virginia Rusli Pemimpin Redaksi

  • Clara | Proudly Indonesia - What Is The Worst Thing You've Ever Lied About ?

    WHAT IS WHITE LIE? Menurut Collins English Dictionary: A minor or unimportant lie, especially one uttered in the interest of tack or politeness.   Menurut Random House Kernerman Webster’s College Dictionary: A minor or harmless lie.   Menurut The American Heritage Dictionary of 

    ; English Language: An often trivial, diplomatic or well-intentioned untruth.   Menurut Oxford Dictionary: A harmless or trivial lie, especially one told to avoid hurting someone’s feelings   Menurut saya: Kebohongan tanpa maksud jelek yang dilakukan dengan sadar demi kenyamanan semu

    a pihak yang terlibat dengan resiko yang seluruhnya harus ditanggung oleh orang yang melakukan. Dan jika harus, saya tahu bahwa saya akan bersedia melakukan sekaligus menanggung resikonya.   Salam, Virginia Rusli Pemimpin Redaksi  

  • Clara | Proudly Indonesia - The Fashion Not Bible

    LAIN DI BIBIR, LAIN DI HATI JUDUL DI atas adalah sebuah peribahasa yang menggambarkan perbedaan antara apa yang terlihat atau Dikatakan dengan apa yang tidak terlihat atau tidak dikatakan alias hanya dipikirkan. Dunia fashion adalah tempat peribahasa tersebut bukan hanya berlaku, tapi juga menjadi k

    omandannya. Dunia yang identik dengan keharuman dan keindahan itu sesungguhnya menyimpan sisi gelap di baliknya. Ada kerja keras penuh keringat di belakang tampilan yang memukau. Baik dari mereka yang memproduksinya ataupun mereka yang menggunakannya.   Mewujudkan suatu karya indah, tidak perna

    h mudah. Ada banyak overtime, banting tulang dan teriakan penuh amarah yang harus dihadapi. Begitu pula dengan para penggunanya. Memiliki barang dengan keindahan dan kualitas tingkat atas memerlukan pengorbanan. Bekerja dengan keras sehingga menghasilkan dana yang cukup, menjadi istri orang kaya den

    gan risiko tsering deg-degan memikirkan suaminya. Saya tidak bermaksud sinis ataupun negatif berlebihan dalam hal ini. Saya hanya ingin membagi apa yang saya tahu dan lihat. Tentu tidak selalu semuanya seburuk yang saya katakan. Namun pastinya tidak juga selalu seindah yang terlihat. Karenanya ketik

    a saya harus bersentuhan dan menghadapi berbagai   Karakter dalam dunia wangi tersebut, yang kadang merupakan bentuk nyata dari segala kepahitan hidup, saya selalu berusaha untuk lebih berbesar hati. Tidak selalu berhasil pastinya, tapi memiliki pikiran tersebut ternyata terasa sangat membantu.

    Bagi saya dunia fashion adalah dunia keras dengan perjalanan panjang yang tak jelas ujungnya, ketika semua yang terlihat tidaklah sama dengan semua yang ada di baliknya.   Salam, Virginia Rusli Pemimpin Redaksi  

  • Clara | Proudly Indonesia - Status : In A Relationsh*t

    MEMENUHI UNDANGAN BERBAGAI ACARA PADA AKHIR TAHUN YANG PENUH DENGAN KERIAAN BUKAN SAJA MEMBERIKAN KESEMPATAN UNTUK BERTEMU DAN BERGEMBIRA DENGAN TEMAN- TEMAN DAN KENALAN LAMA, TAPI JUGA BERTEMU DAN BERKENALAN DENGAN ORANG-ORANG BARU.   PERKENALAN TERSEBUT mau tidak mau mengingatkan saya pada be

    rbagai perkenalan yang pernah saya lakukan. Ada yang hanya berhenti hanya sampai saling kenal, ada yang berlanjut hanya dalam urusan pekerjaan, ada pula yang sampai menjadi teman, baik teman biasa ataupun sahabat dekat. Bagi saya, satu hal yang pasti, hubungan yang terjadi setelah saling kenal meman

    g harus dilandasi oleh kesepakatan kedua belah pihak. Tentu saja tidak seresmi menggunakan MoU, namun sesungguhnya juga tidak kurang dari perlu adanya suatu komitmen, tidak tertulis, untuk menjaga komunikasi meskipun hanya once a while.   Saya selalu berpendapat ada dua hal penting dalam hubung

    -an yang ideal. Pertama, hubungan harus dapat membuat Semua yang terlibat di dalamnya menjadi manusia yang lebih baik. Meskipun kadang terlihat tidak selalu menyenangkan hati semua pihak, semua jenis hubungan harus berusaha dijaga kelangsungannya. Sesederhana karena hubungan antar manusia itu berbed

    a dangan hubungan listrik yang hanya tinggal menekan tombol On jika ingin menyambungkan hubungan listrik dan Off jika ingin memutuskan hubungannya.   Kedua, hubungan juga harus menyenangkan semua pihak yang ada. Meski sejujurnya dalam hal pekerjaan faktor kepentingan hampir selalu lebih diutama

    kan, namun perasaan senang pasti akan memberikan pengaruh yang signifikan. Paling tidak, saya tidak pernah merasa keberatan jika mendadak ada undangan meeting dengan waktu yang ajaib (baca: sebelum atau sesudah jam kantor) dan tempat yang juga aneh (baca jauh sekali atau macet sekali). Selain tentun

    ya menjauhkan saya dari stres. Dan ketika kedua hal tersebut tidak terjadi, saya harus memikirkan ulang hubungan yang ada dengan sungguh-sungguh. Akankah diteruskan atau dihentikan. Karena, sekali lagi, hubung-an antar manusia tidak sama dengan hubungan aliran listrik yang hanya tinggal di On-kan ke

    tika diperlukan dan di Off-kan saja jika terasa menyulitkan. Ada usaha dan waktu yang perlu dilakukan dibalik setiap keputusan yang saya ambil.   Salam, Virginia Rusli Pemimpin Redaksi

  • Clara | Proudly Indonesia - To Keep And To Cut

    THE FIRST   SAYA SELALU TERTARIK DENGAN KATA PERTAMA. ALASANNYA SENDIRI SAYA KURANG YAKIN. BISA KARENA BIASANYA BERHUBUNGAN DENGAN PENGALAMAN BARU, BISA JUGA KARENA BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS TERBAIK, ATAU SESEDERHANA KARENA KADANG SAYA SUKA TIDAK MAU KALAH.   Bagi saya tahun ini terasa c

    epat berlalu. Ada begitu banyak hal terjadi. Tidak semua menyenangkan, namun tidak semua pula menyusahkan. Yang pasti, apapun yang terjadi, pembelajarannya harus selalu memberikan peningkatan bagi saya. Ada banyak hal yang ingin   saya teruskan, namun tak sedikit yang ingin saya singkirkan. Hal

    yang menyenangkan hati adalah terbitnya edisi ini. Kembali tepat waktu setelah cukup lama sering mangkir, adalah salah satu alasannya. Selain itu bersamaan dengan edisi  Desember ini, untuk pertama kalinya edisi CLARA MEN terbit, meski masih berupa supplement.    Dan untuk pertama ka

    linya juga kami mengeluarkan satu edisi untuk dua bulan. Di tahun 2014 nanti, rencananya kami hanya akan menerbitkan10 edisi. Edisi yang ini merupakan edisi untuk bulan Desember dan Januari. Hal yang sama akan kami terapkan di bulan Juni dan Juli.   Saya percaya selalu ada kali pertama untuk se

    mua hal. Sama seperti saya percaya bahwa kita semua harus melakukan hal-hal yang utama terlebih dahulu. Dan untuk saat ini semua yang kami lakukan adalah demi keinginan untuk menjadi yang utama bagi Anda, pembaca kami.   SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU   Virginia Rusli Pemimpin Redaksi

  • Clara | Proudly Indonesia - Beauty And The Best

    CANTIK I TU SUBYEKTIF Beauty is in the eye of the beholder. Saya setuju dengan pernyataan itu. Karena saya percaya setiap orang memiliki selera yang berbeda. Memang ada kecantikan yang hampir diakui oleh semua orang, namun saya tidak percaya akan adanya kecantikan yang absolut. Setiap orang memilik

    i versi cantik sendiri sendiri. Dan ini adalah versi cantik saya. Tentu hanya cantik secara fisik yang saya maksudkan,karena selain memang tidak kenal, saya juga tidak berani sok tahu menilai kepribadian orang lain. Bagaimana dengan Anda?   Virginia Rusli Pemimpin Redaksi

  • Clara | Proudly Indonesia - Healthily Ever After

    “Sometimes it's hard to keep on running, We work so much to keep it going, Don't make me want to give up” – Running by No Doubt (2001) Bagi saya, seorang Sigi Wimala adalah sosok yang kemaruk, tamak, dan tidak mau mengalah. Kemaruk atas bagian tubuh yang tampak sempurna ber

    susun indah menjadi kesatuan paras yang rupawan. Tamak atas berbagai talenta, ilmu, dan prestasi, yang semakin membawa dirinya cemerlang dalam berkarier.Dirinyapun tidak pernah mau mengalah untuk menyerah begitu saja dalam kegagalan sebelumnya, yang memang pada akhirnya semua terbukti berhasil Ia ga

    pai dalam totalitas dan presisi.   Bagaimana mungkin dalam diri sesorang terdapat begitu banyak kelebihan dan talenta yang selalu saja memukau banyak orang.Bagaimana mungkin dalam wujud indah tersebut masih terdapat ketulusan pola pikir, serta santun perilaku.Mungkin dalam menciptakan kasus yan

    g satu ini, Tuhan sedang dalam nuansa hati yang sangat baik. Paling tidak, kesan itulah yang saya dapat dari menjalankan wawancara dengannya pada awal bulan lalu. Wawancara manis yang begitu berkesan dan membuat saya sebagai salah satu penggemar, jatuh hati untuk kesekian kalinya.

  • Clara | Proudly Indonesia - Hero Spective

    WANDA HAMIDAH : WOMEN OF STEEL Perempuan yang pernah dijuluki "Si Wajah Barbie" ini terlihat cerdas, tidak banyak polah, bahkan terkesan misterius. Terbukti dengan sepak terjangnya di dunia aktivis dan politik yang mendaratkannya pada bangku legislatif sebagai wakil rakyat.

  • Clara | Proudly Indonesia - Pesona Bunga - Kilau Intan

    Saya suka makan dan hampir selalu bisa menikmatinya. Meskipun kadang makanannya sendiri tidak sepenting dengan siapanya saya makan. Namun, saya juga tidak keberatan untuk menikmatinya sendiri seperti saat di pesawat. Bagi saya, kegiatan makan adalah kegiatan penting yang sama sekali bukan sekedar me

    ngisi perut.  Dan saya yakin bahwa saya tidak sendirian dalam hal ini. Terbukti dari menjamurnya tempat-tempat makan sekarang. Mulai dari yang harganya sangat terjangkau, sampai yang memerlukan usaha keras untuk menjangkaunya. Bukan hanya keragaman makanan yang ditawarkan, tapi juga berbagai ko

    nsep kreatif  dari tempat-tempat makan tersebut. Yang jelas, perubahan zaman dan kondisi yang ada juga berimbas dalam hal makanan. Meski kadang saya merasa bahwa makanan sekarang ini suka mengada-ada dengan mengatasnamakan modernitas dan melupakan banyak hal yang justru  merupakan inti dar

    i makanan itu sendiri, sekaligus menimbulkan rasa kangen terhadap masakan jaman dulu.   Saya sendiri yakin, apapun perubahan yang terjadi, makanan tidak akan menjadi hal yang tidak penting. Sejarah, baik yang tertulis ataupun tidak, baik yang berskala dunia maupun pribadi, mencatat bahwa banyak

    hal rumit dapat terselesaikan dengan baik melalui makanan dan “meja makan”. Karenanya, betapapun makanan dapat menimbulkan efek negatif, seperti masalah penyakit dan berat badan,  saya tetap percaya pada “kekuatan” yang dimilikinya serta kecerdasan kita untuk mengaturny

    a. Kekuatan Untuk membantu menyelesaikan banyak masalah. Sama seperti kekuatan dalam banyak hal lain di dunia ini. Hanya cukup digunakan untuk menyelesaikan masalah bukan membuat masalah baru. Bon Appetit Virginia Rusli Pemimpin Redaksi

  • Clara | Proudly Indonesia - Traveling

    DLG on DLR (Daddy’s Little Girl on Distant Love Relationship) Sejauh Mana Garis wajah dan Talenta Berseteru Demi Menggaris Takdir Sebagai diva Menjadi seorang putri dari dua nama besar seorang Sophia Latjuba dan Indra Lesmana, tentunya memberikan warisan positif juga negatif bagi seorang Eva C

    elia lesmana. Paras cantik nan ayu titisan Venus, serta talenta luar biasa dalam bermusik, tentunya menjadikan pribadi Eva, sesuatu yang sangat menarik untuk dicermati. Sementara di lain pihak, kebesaran kedua nama tersebut justru terkadang menjadi batu sandungan yang membuat dirinya kerap kali diba

    ndingkan dengan prestasi gemilang Ayah dan Bundanya. Bagaimanakah akhirnya seorang Eva bisa berdiri sendiri dan menunjukkan bahwa eksistensinya sudah lama lepas dari nama-nama tersebut?Melainkan saat ini, bisa dikatakan berdiri kokoh atas landasan pasak bakat yang telah teruji paten di depan ribuan

    mata yang menyaksikan sendiri. Kini, gadis yang beranjak dewasa itu telah berubah, menjelma dari sosok manis pemalu, menjadi bintang bersinar di atas panggung, yang ranum justru di kala jauh dari sosok sang ayah.

  • Clara | Proudly Indonesia - #hashtag

    #OMGJ…!!!..(Oh_Mulan_Jameela!!!) “Kalau dulu kecil cita-citanya mau masuk surga. Kalau sekarang?...”

  • Clara | Proudly Indonesia - Buy Or Die

    ONE REALISTIC IDEALIST Memilih Mariana Renata Dantec sebagai representasi edisi yang berkutat seputar materialisme ini adalah keputusan yang sangat tepat, atau sangat salah. Pada hari pemotretan dan wawancara, Ia muncul hanya mengenakan celana pendek batik lusuh, converse, kaus polos, tas ransel, da

    n rambut yang tidak disisir, meskipun semua itu tak sedikit pun mengurangi kecantikannya yang tersohor.Tak ada impresi bahwa dirinya seorang pemuja hedonisme dan barang menyilaukan yang lumrah di dunia fashion ini.Tapi di satu sisi, kesederhanaannya bak oksigen murni diantara gemerlapnya dunia moder

    n yang terkadang menyesakkan. Dan aura kehadirannya tetap intimidatif. Segala pertanyaan seputar fashion yang sudah saya siapkan, rasanya menjadi tak lagi relevan ketika kepribadiannya pelan-pelan mulai terkupas dan orientasinya lebih condong kepada isu yang kompleks, filosofis, dan idealis. Segala

    pemikiran yang dimilikinya bisa dibilang menentang segala sesuatu yang bersifat materialistis, meskipun Ia menolak dibilang spiritual. Seakan terjebak diantara ilusi akan idealisme dengan realita hidup yang tak bisa dipungkiri, Mariana pun berbagi persepktifnya dalam memandang materialisme yang suda

    h menggerogoti masyakarat kini.

  • Clara | Proudly Indonesia - Friends With Benefit

    BAD GIRL GONE MOM “Sometimes the strength of motherhood is greater than natural laws” – Barbara Kingsolver Sore itu di sebuah studio di Jakarta Selatan, sosoknya begitu dinanti oleh tim CLARA. Setelah menunggu selama 2 jam, akhirnya sosok ayu berkemeja pink hadir juga ditengah-teng

    ah kami. Jelas terdapat perbedaan kental dengan sosok muda yang saya saksikan di layar kaca terdahulu. Kedewasaaan dan kematangan hidup telah jelas tersirat di wajahnya yang keras dan berkelas. Kiprahnya sebagai seorang aktris memang bukan sesuatu yang patut diperdebatkan lagi. Bagi saya pribadi, ha

    ti ini sudah jatuh berkeping ketika pertama kali melihat sosoknya beradu akting dalam sinetron Pondok Indah di era 90-an. Perpaduan rupa Jawa dan Inggris jelas menghasilkan kekaguman orang banyak terhadap wanita bernama lengkap Wulan Lorraine Gurito ini. Tak terkecuali kisah hidupnya di masa lampau

    yang sempat mencuri atensi publik karena konflik keluarga yang cukup berkepanjangan. Namun bukan itu lagi yang ingin kita gali dari seorang Wulan Guritno. Di balik sosok yang “nyablak” dan konfrontatif ini, masih banyak sekali nilai yang patut untuk diketahui dan mungkin saja layak untuk

    diapresiasi.

  • Clara | Proudly Indonesia - Tak Ada Rencana Yang Tak Retak

    Di kala seorang manusia terjatuh ke dalam lubang percobaan, terkadang kita berpikir bahwa ia hanya memiliki dua pilihan, yakni berserah pada nasib atau berusaha untuk bangkit. Wanita ini justru berbeda. Kelamnya kehidupan dan sakitnya perpisahan ternyata membuka matanya akan pilihan ketiga, yaitu be

    rharap untuk jatuh lebih dalam lagi, agar dapat belajar menjadi manusia yang lebih baik dari sebelum ia terjatuh. Mengapa? Karena Maera Panigoro bukanlah sekedar nama berlalu lalang di bawah gelapnya bayang-bayang.

LOAD MORE