REGISTER NEW ACCOUNT

By signing up, I agree to Myperpus Terms and Condition

Register with Facebook

  • Kabare Magazine - YANG TERLUPAKAN DARI JALUR REMPAH

    Bila dalam edisi Maret 2017 ini, kami kembali mengangkat tema rempah, seiring dengan upaya para pihak mengangkat kembali pamor rempah nusantara. Misalnya, Dewan Rempah Nasional, berupaya mendong  krak kembali pamor cengkih, pala, lada dan lainnya. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata, di t

    engah peringatan Hari Pers Nasional di Ambon me­launnching wisata tematik jalur rempah, karena mempunyai potensi wisata budaya, alam, bahari dan kuliner khas nusantara. Dan Pemprov Maluku akan menggelar Peringatan 350 Tahun Perjanjian Breda di Banda dan New York. Dengan perjanjian Breda antara B

    elanda dan Inggris tahun 1667 itulah,  Pulau Rhun sebagai penghasil pala di Maluku, ditukar dengan Pulau Manhattan AS. Kini Manhattan bersinar, dan Rhun meredup. Sidang pembaca yang budiman, Juni nanti usia Majalah Kabare tepat 15 tahun. Lahir dan besar di Yogyakarta, lalu kantor pusatnya hijra

    h ke Jakarta medio 2015. Di bawah Kabare Media Group, Majalah Kabare, dalam turut memajukan kebudayaan Tanah Air, bersinergi dengan Kabare.co dan Kabare Production. Kini, banyak rencana yang tengah disusun, untuk menyambut usia 15 tahun itu. Salah satunya adalah untuk lebih memuaskan pembaca dengan

    sajian karya­karya jurnalistik yang dapat menjadi ru jukan  terpercaya. Seiring dengan kebutuhan waktu berbenah, kami mohon izin setelah edisi ini, kita jumpa lagi pada setiap bulannya mulai awal Juni 2017. Pada masa rentang waktu itu, pembaca dapat mengikuti perkembangan kami di kabare.co.

    l

  • Label Free Kabare Magazine - PARA RAJA DAN SULTAN MENGGUGAT | KABARE MAGAZINE

    KERATON MARAH! Akhirnya “bisul” Keraton Nusantara itu pecah di Kutaringin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Di puncak Festival Kraton Nusantara (FKN) X, Oktober silam. Sekaligus menjadi bukti, bahwa Raja dan  Sultan juga manusia. Maka, setelah sekian lama para Raja dan Sultan yang

    bergabung dalam Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se­Nusantara (FKIKN), memendam perasaan dan pikiran bertahun­tahun,  mereka pun terang­terangan menuntut pemerintah melalui Deklarasi Kutaringin.    “Kami para Raja dan Sultan menuntut peran baru bagi kami d

    alam proses pembangunan bangsa dan negara sehingga tidak sekedar jadi penonton. Kami menuntut komitmen Pemerintah dengan leluhur kami di saat mendirikan NKRI untuk tidak diingkari,” begitu bunyinya. FKIKN ini tidak sendirian. Kelompok Raja dan Sultan lainnya, yang tergabung dalam Yayasan Raja

    dan Sultan Nusantartara (Yarasutra), September lalu, di Sulawesi Selatan, lewat Deklarasi Yarasutra juga melontarkan tuntutan. “Kami ada sebelum kamu ada. Kamu ada karena kami akui kamu ada. Tidak ada alasan buat kamu untuk tidak mengakui kami.”  Yang dimaksud  kamuadalah 

    Pemerintah NKRI, dan kami adalah Kerajaan dan Kesultanan. Sejarah mencatat, demi terbentuknya NKRI, para Raja dan Sultan telah rela berkorban, antara  dengan menyerahkan wilayah (tanah), kerajaan, uang, hingga harta benda.  Kini di era demokrasi, para penerus Raja dan Sultan merasakan, ap

    a yang dahulu disepakati ayah atau nenek moyang mereka dengan Soekarno, Bapak Prok lamator dan Presiden pertama Indonesia, diingkari oleh penguasa   sekarang.  Tidak bisa dipungkiri bahwa semasa pra kemerdekaan, kerajaan­kerajaan di Tanah Air punya peran besar dalam mengantar Nusa

    ntara kedepan pintu kemerdekaan Indonesia. Beberapa kerajaan besar yang  pernah berjaya pada masanya, yaitu  Kutai  ( tahun 300 – 1400M ), Taruma Negara ( tahun 500 s/d 750 M ), Sriwijaya dan Melayu (tahun 650 – 1200M),  Pagaruyung ( tahun 1100 – 1400 M ), 

       Singosari  (tahun 1200 – 1300 M ),  Majapahit (tahun 1300 – 1550 M ) , Mataram, Kertosuro,  Kasunanan Solo, Kasultanan Yogya, dan Keraton se Nusantara. Masing­masing meninggalkan warisan kultural, yang bisa dilacak jejaknya pada masyarakat tempatan. Dan sa

    mpai hari ini, masih cukup banyak yang menjadi rujukan kultural bagi masyarakat pendukungnya. Meski harus diakui kekuatan keraton telah ber geser, dulu “tuntunan”, sekarang sekedar “tontonan” pariwisata. Keberadaan UU Cagar Budaya, kemudian disusul Permendagri Nomer 39 tahun

    2007 tentang Pedoman Falisitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat dalam Pelentarian dan Pengembangan Budaya Daerah, merupakan paying hukum, sekaligus amanat bagi pemerintah untuk me­ lakukan “pembinaan”. Namun dengan maraknya forum Raja, Sultan, K

    eraton, ditambah munculnya raja­raja ga­ dungan, raja kembar, dan lain­lain, pemerintah memang perlu melakukan pendataan melalui system akre ditasi yang berakar pada fakta sejarah, dan bukan pa da factor suka atau tidak suka. Untuk tugas itu, peme rintah bisa menggandeng Masyarakat Sejar

    awan Indonesia (MSI). Akhirulkalam, perlu kita sadari bersama bahwa Deklarasi Kutaringin Yang sangat eksplisit itu, merupakan babak baru yang nyata dalam tata hubungan “batin”, antara Raja dan Sultan  dengan Pemerintah RI. Sungguh terpuji, jika pemerintah Djoko Widodo melalui menter

    i­ menteri terkait, dengan kearifannya mau menanggapi dan mencari solusi terbaik. Agar Raja dan Sultan yang menghendaki “peran baru” di masa kini menemukan bentuknya yang nyata, saling menguntungkan, memperkokoh NKRI, dan dapat memajukan kebudayaan Indonesia. Teriring salam hangat, Y

    usuf Susilo Hartono Wapemred/Penanggung Jawab

  • Label Free Kabare Magazine - MEMBANGUN CITRA BISNIS DI DUNIA SENI | KABARE MAGAZINE

    PENTINGNYA CSR DAN MAESENAS SENI BUDAYA Coba teliti di balik kebesaran Teater Koma, Komunitas Salihara, Padneswara, Artjog, Java Jazz, Indonesia Dance Festival, Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan Indonesia Art Awardnya, Yayasan Total Indonesia, Bentara Budaya, koreografer Sardono W.Kusumo, sineas Ga

    rin Nugroho, aktor Butet Kertaradjasa, musisi Dwiki Dharmawan, dan lain-lain. Pasti ada maesenas (pendukung kebudayaan, pendukung seni, dan pengayom seniman) atau CSR (Corporate Social Responsibilty) sebagai penyandang dana di belakangnya. Dan Hal itu bisa terwujud, tidak dengan tiba-tiba (Jawa = uj

    uk-ujuk),  seperti  bintang jatuh dari langit, melainkan mereka membinanya dengan penuh keuletan, kesabaran, dan dalam  waktu bertahun-tahun. Sebelum mereka besar, pada umumnya berdarah-darah, Istilah lain dari perlu pengorbanan, usaha keras, kesabaran membangun jejaring, dan tetap be

    rkarya dengan menunjukkan ciri khas dan kemajuan demi kemajuan. Dan Setelah mereka “punya nama”, maka yang tadinya rajin mengejar, gentian kini “dikejar” oleh sponsor, dalam hal ini termasuk CSR, dan maesenas. Atau sama-sama mengejar, karena sama-sama butuh. “Soal menda

    patkan sponsor itu sifatnya jodoh-jodohan. Pihak Sponsor tentu punya kriteria ‘tokoh’ Yang dapat memperkuat dan membangun brand image,” ujar Candra Darusman Menuturkan pengalamannya. CSR dan  maesenas yang telah mengucurkan uang itu, membutuhkan citra atau komitmen dari seseor

    ang atau produk yang didanai. Tentu saja ini membutuhkan chemistry, atau senyawa yang kuat antara yang memberi dan yang diberi. Agar sama-sama mendulang manfaat, dimata masyarakat. Rusaknya Senyawa itu, hanya akan meruntuhkan kepercayaan sepihak atau parahnya kedua belah pihak. Oleh Karena itu, peng

    galangan dana ini harus ditangani secara hati-hati, dan berkelanjutan. Mungkin Tidak harus senimannya sendiri yang maju, tapi ada pihak (tim/panitia) yang mewakilinya. Perusahaan-perusahaan yang peduli dengan program seni budaya di Tanah Air, Jumlahnya banyak. Beberapa Diantaranya Bank Mandiri, Bank

    BCA, Bank UOB, Bank BRI, Bank BNI, Djarum Foundation, Sampoerna, Yayasan Ciputra, dan lain-lain. Sedangkan beberapa lembaga asing diantaranya Ford Foundation, Japan Foundation, Rockefeler Foundation, Goethe Institut, Prince Claus Fund, Hivos, Britis Council. Masing-masing lembaga itu memiliki pilih

    an seni, selera, dan arah kebijakan sendiri. Oleh karena itu bagi seniman atau group yang ingin mengajukan proposal, mesti paham dulu  minatan mereka, agar bisa tembus dan tidak sia-sia. Di era internet sekarang, mereka bisa di lihat melalui website, facebook, dan media publikasi/ promosi merek

    a masing-masing. Seringkali terdengar keluhan dari berbagai perusahaan yang ingin (ikut) Membantu memajukan seni budaya kita adalah masalah pajak. Mereka berfikir, bagi perusahaan yang turut membina seni budaya akan dapat keringanan pajak. Baik itu  bantuan dana  untuk penelitian, pementas

    an, pameran, pemugaran, pembangunan, hingga pendataan. Keluhan Yang begitu nyaring dari waktu-kewaktu, hingga mereka bosan sendiri, impian tentang keringan pajak ini tidak pernah terjadi. Apalagi Petugas pajak sekarang ini dibebani tugas Negara yang besar, keluhan itu tergilas. Terlepas dari belum a

    danya keringanan pajak, ranah Yang perlu mendapatkan uluran tangan dari CSR Maupun Maesenas Banyak sekali. Tidak melulu pementasan maupun pameran lukisan. Bidang-bidang Penting tapi sering terlewat misalnya pendokumentasian para maestro yang masih hidup, baik dalam bentuk film, video, hingga buku. A

    palagi Kalau kita bicara maestro tradisi, yang sumbernya adalah seniman-seniman tradisi lisan. Kalau sang maestro tradisi mangkat, segala pengetahuan, pengalaman seumur hidup, dan kreativitas yang seringkali di luar teori sekolahan, ikut terkubur. Padahal Sesungguhnya itu penting untuk pembelajaran

    generasi penerus. L Teriring salam hangat, Yusuf Susilo Hartono Wapemred/Penanggung Jawab

  • Label Free Kabare Magazine - JEJAK LANGKAH 14 TAHUN KABARE | KABARE MAGAZINE

    Menapak Era Baru Saat terbit pertama kali,  ada orang yang meramal bahwa  majalah ini akan mati pada  edisi empat atau lima. Akan tetapi,  ramalan   itu meleset dan majalah ini malah  berusia belasan tahun.

  • Label Free Kabare Magazine - JALUR REMPAH SEBAGAI WARISAN DUNIA KENAPA TIDAK? | KABARE MAGAZINE

    Membenahi Wajah Rempah Nasional Pembaca Kabare yang budiman. Dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini, kita tak bisa dilepaskan dari rempah-rempah, seperti lada atau merica, cengkih, pala, jahe, kayumanis, bawang merah dan putih, kemiri, kencur, cabai, asam jawa, temu lawak, dan lain-lain. Sunggu

    h tak terbayangkan bila masakan dan makanan tanpa rempah. Itu sebabnya rempah-rempah adalah nyawa dari lidah, atau bahasa umumnya “nyawa kuliner”.  Selain itu, rempah juga berguna bagi kesehatan dan obat-obatan, lading perdagangan, hingga ilmu pengetahuan. Maka bisa dipahami, rempah

    merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan umat manusia. Tak heran di masa kolonial, bangsa asing dari Eropa dan Asia, saling berburu rempah langsung ke Nusantara, baik melalui jalur darat maupun laut. Jejak-jejak peninggalan budayanya, baik yang bersifat tangible maupun yang intangible masih dapat d

    ilihat sampai sekarang, di Ternate, Tidore, Banda, dan pulau-pulau rempah lain di kawasan Maluku. Bahkan jejak itu melebar sampai Minahasa, Sulawesi Utara, di antaranya kue panada, dan di Jakarta di antaranya keroncong Tugu, hingga bekas-bekas  gudang rempah dan bangunan-bangunan  dengan l

    anggam arsitektur kolonial. Pun, jejak peninggalan budaya tak benda, antara lain pada bahasa Belanda, Arab, China, atau  Portugis yang mewarnai kosa kata dalam bahasa Indonesia.    Dunia mengakui bahwa rempah Nusantara memang khas. Ragamnya banyak dan lengkap. Dan dunia pun sampa

    i saat ini belum lupa, bahwa rempah yang utamanya diproduksi oleh kepulauan Indonesia pernah menjadi primadona dan penggerak utama sejarah dunia. Tapi, di masa kini apakah sang primadona itu, hidupnya bersinar terang secara ekonomi? Apakah seluruh sejarahnya bisa dipahami,  dan dimengerti denga

    n baik oleh anakanak bangsa yang mudah lupa (wong Dasar Negara Pancasila saja banyak yang tidak hapal lho). Untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang rempah Nusantara, sembari melihat persoalan-persoalan kekinian yang terjadi pada dunia rempah-rempah nasional kita, Kabare edisi ini sengaja meng

    angkat Kabar Utama tentang rempah. Sekaligus  mencermati upaya-upaya lebih jauh apa yang harus dilakukan untuk memajukan dunia rempah Indonesia, baik di rumah sendiri maupun di dunia globalinternasional. Pada saat ini, bisnis rempah lebih banyak dilakukan oleh pihak swasta, terutama setelah run

    tuhnya campur tangan  negara dalam kasus BPPC pada masa  pemerintah Orde Baru. Agaknya perlu penelitian lebih lanjut, apakah perkebunan negara masih ada yang mengusahakan  tanaman rempah-rempah, seperti cengkih, lada, pala, kayumanis, dan sebagainya. Kini muncul pemikiran bahwa reputa

    si rempah sebagai warisan sejarah bagi Indonesia perlu dimanfaatkan sebagai aset budaya yang dapat dikembangkan untuk  pariwisata. Jika China telah mampu menjadikan "jalur sutera" sebagai warisan dunia, maka mustinya Indonesia juga mampu mengajukan kepada UNESCO "jalur rempah&quo

    t; sebagai warisan dunia.” Menyusul wayang, batik, angklung, noken, subak, tari Bali, dan lain-lain yang telah lebih dahulu mendapat pengakuan sebagai world heritage culture. Kami juga mendukung pemikiran dan usulan Adi Sasono, Ketua Dewan Rempar Nasional, bahwa bangsa ini perlu memiliki museu

    m rempah nasional yang memadai, dari sudut informasi, teknologi dan tata kelola penyajiannya, hingga bangunan dan ciri khasnya sehingga bisa merepresentasikan jalur rempah Nusantara dan dunia. Harus diakui, pada saat ini kita telah memiliki Museum Rempah-rempah yang dibangun di dalam kawasan Benteng

    Oranye, Kota Ternate, Maluku Utara. Namun sajian koleksinya terbatas pada sejarah lokal, sehingga kurang mampu  menggambarkan wacana rempah pada sekala nasional dan internasional. Semoga!   Salam budaya dari Semanggi

  • Label Free Kabare Magazine - KARYA-KARYA BESAR MENGAMBIL JIWA PELUKISNYA | KABARE MAGAZINE

    Generasi Instan Mengelola Candi Candi-candi yang ada menunjukkan peradaban di Nusantara sudah sangat maju berabadabad lalu.Dunia berdecak kagum dan mengakui konstruksi candi, pahatan, teknik membangun candi,sekaligus artistiknya. Saat Ini, persoalan yang sangat pelik adalah mengintegrasikan pengelol

    aan candi.

  • Label Free Kabare Magazine - BUDAYA MENJADI MAGNET KEDATANGAN TURIS | KABARE MAGAZINE

    Pembasmi Kejahatan Masih di Atas Kertas Tokoh manusia super versi komik Indonesia sangat banyak. Tetapi ketika ingin difilmkan, investor mundur teratur kepentok dana yang sangat super. Tidak heran bila komikus Indonesia tidak berani berharap karyanya dapat menghasilkan ekonomi yang lebih baik.

  • Label Free Kabare Magazine - SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X – PERADABAN YANG TERTUKAR | KABARE MAGAZINE

    Ruang Pamer Karya Perupa Muda Satu-satu… daun muda bersemi…, meniti hidup…, gantikan yang tua…. Sepenggal bait lagu Iwan Fals mengingatkan kita pada dunia seni rupa Indonesia. Bahwa, perupa-perupa muda sudah selayaknya dapat menggantikan posisi maestro sepuh. Tetapi, dima

    na mereka mampu memamerkan karyanya?

LOAD MORE