REGISTER NEW ACCOUNT

By signing up, I agree to Myperpus Terms and Condition

Register with Facebook

Business Category

  • Globe Asia - INDONESIA ECONOMIC FORUM 2016 | GLOBE ASIA

    Innovate or perish Over the past decade, the world has witnessed a great transformation. Developments in information technology, artificial intelligence, big data analytics, e-commerce and the sharing economy are changing the way we learn, work, shop and travel. At the heart of this transformation h

    as been the emergence of new industries that have utilized the power of the crowd through big data analytics and artificial intelligence. As a result, we are upending long established industries and business processes. This transformation provides huge opportunities but also presents societies with

    enormous challenges. Indonesia must be part of this process. We must contribute to this global movement with our own ideas, initiatives and products. Indonesia cannot afford to sit back and merely consume what the rest of the world offers. This means that as a society we must adopt an innovation cul

    ture that embraces change, even if that change disrupts our established thinking. Innovation drives progress and improves productivity and ultimately helps improves our standard of living and determines the quality of life. In the 21st century, innovation will continue to drive economic and social p

    rogress. This has always been the  case but now science and technology are advancing at mind-boggling speed and the possibilities of innovation are truly infinite.  Imagine if through digitalization  we can provide affordable healthcare  to all 250 million Indonesians?  What

    if we use big data analytics to predict future trends and thus sharpen public policymaking? But even within this constant and rapid change, certain goods and services will always be needed. Textiles and garments will never become sunset industries but factories and companies that do not embrace tec

    hnology and automation may fade away. This is where Indonesia, with its large manufacturing base, relatively cheap labor and a vast consumer market can play a leading role. The internet and the ability to garner and analyze big data have the potential to break down the barriers to more robust econom

    ic growth. But in these changing times, both government as well as the private sector must be more agile in their thinking and actions. We cannot afford to be rigid and close-minded. Policymakers must allow entrepreneurs to test new ideas without restricting them, especially in new areas where there

    are few or no  established rules. Entrepreneurs and investors on their part must be bold and innovative. Our economy and our society face many difficult  challenges ahead.  We must innovate or perish. Shoeb Kagda Editor in Chief shoeb@globeasia.com

  • Investor | Referensi Investasi - 50 BUMN TERBAIK 2016 | MAJALAH INVESTOR

    INVESTAMA JALAN PANJANG MENUJU ‘SUPERHOLDING’ BUMN Presiden Joko Widodo telah merestui Kementerian BUMN memproses pembentukan superholding BUMN. Sebelum ide besar itu terealisasi, pemerintah akan merealisasikan rencana pembentukan holding berdasarkan sektor usaha. Tahun ini ditargetkan 5

    holding sektoral terbentuk. Lima holding ini menjadi bagian dari target pembentukan 15 holding secara bertahap menuju superholding. Pada saatnya superholding akan mereduksi peran Kementerian BUMN, sehingga mekanisme korporasi akan jadi panglima dalam pengelolaan BUMN. Namun jalan menuju impian muli

    a itu tampaknya masih akan panjang. Oleh: Frans S Imung

  • Investor | Referensi Investasi - 20 Best Multifinance Companies 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA BERPACU MENDONGKRAK EKSPOR OTOMOTIF Kementerian Perindustrian mendorong industri otomotif untuk terus meningkatkan ekspor. Pemerintah akan mendukung dengan sejumlah kebijakan. Keberhasilan Thailand di pasar ekspor layak jadi contoh. Namun soal ekspor soal komitmen prinsipal. Merespons hara

    pan Gaikindo agar ada peningkatan investasi untuk mencapai target ekspor, pemerintah perlu melakukan pendekatan khusus pada prinsipal agar merealisasikan janji menjadikan Indonesia sebagai basis produksi. Oleh: Frans S. Imung

  • Investor | Referensi Investasi - 20 Best Syariah 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA MEMPERKUAT PILAR BISNIS SYARIAH, MEMBIDIK PASAR GLOBAL Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi menjadi pusat bisnis syariah. Namun, diperlukan upaya keras untuk menggenjot bisnis syariah di Tanah Air dan menembus pasar syariah global. Agar bisa berkembang, ke

    uangan syariah harus bersifat inklusif, sehingga bisa diakses semua kalangan masyarakat. Selain itu, Indonesia perlu memperkuat keberadaan pelaku bisnis menengah dan mikro untuk menopang pilar-pilar bisnis syariah. Oleh: Komang Darmawan

  • Investor | Referensi Investasi - 20 Best Insurances Companies 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA KETATNYA PERSAINGAN ASURANSI DI ERA DIGITAL Persaingan di industri asuransi kian tajam, seiring dengan makin banyaknya pemain global yang berkiprah di Indonesia. Di sisi lain, tuntutan penggunaan teknologi digital juga menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan asuransi. Bagaimana perusa

    haan asuransi mengantisipasi berbagai tantangan yang ada, termasuk situasi ekonomi yang kurang menguntungkan saat ini? Oleh: Komang Darmawan  

  • Investor | Referensi Investasi - 50 Best Bank 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA TERTEKANNYA PROFITABILITAS PERBANKAN Upaya pemangkasan suku bunga pinjaman menuju single digit dan pengaturan net interest margin diperkirakan akan menekan profitabilitas perbankan. Pasalnya, upaya itu tidak diiringi dengan efisiensi operasional bank dan penurunan cost of fund secara signi

    fikan. Kondisi ekonomi yang belum mendukung juga menimbulkan kekhawatiran terjadinya credit crunch dan membengkaknya kredit bermasalah. Oleh: Komang Darmawan PEMERINGKATAN BANK 2016: 3 BANK PAPAN ATAS MASIH BERTAHAN Meski menghadapi banyak tantangan, tiga bank papan atas, yaitu BRI, BCA dan Mandiri

    , masih bertahan di posisi “Top 3”.  Oleh: Komang Darmawan SAAT SEKTOR RIIL ‘OGAH’ PINJAM DUIT. Kalangan perbankan termasuk otoritas harus mengevaluasi proyeksi pertumbuhan kredit  tahun ini, menyusul situasi perekonomian global yang tak menentu. Hal ini diperburuk

    terkoreksinya pertumbuhan Negeri Tirai Bambu, yang menjadi pasar komoditas dalam negeri. Oleh: Fajar Widhiyanto KONSOLIDASI VIA BUNGA ‘SINGLE DIGIT’. Pemerintah menyiapkan scenario pembentukan holding untuk bank-bank besar berpelat merah. Untuk bankbank kecil akan “dipaksa”

    melakukan konsolidasi lewat kebijakan bunga single digit di akhir tahun. Oleh Fajar Widhiyanto MENKO MARITIM: TOL LAUT BUKAN DONGENG. Menko Maritim Rizal Ramli menegaskan bahwa konsep Tol Laut yang dilansir oleh Presiden Joko Widodo sudah mulai diimplementasikan di empat rute.  Rute itu 

    ; berangkat dari Tanjung Perak dan Tanjung Priok ke kawasan timur Indonesia. Oleh: Fajar Widhiyanto INFLASI 2016 PADA RENTANG 4,0% - 4,5% Pemerintah memproyeksikan  angka inflasi tahun ini berkisar 4,0%  hingga 4,5%. Sedikit lebih rendah dibanding proyeksi pemerintah pada awal tahun ini y

    ang menyebut angka infasi 2016 akan berada di angka 4,7%. Oleh: Fajar Widhiyanto MEMASYARAKATKAN ASURANSI LEWAT PRODUK ‘PERSONAL ACCIDENT’ Potensi asuransi kecelakaan diri sebenarnya besar karena bisa dilekatkan dengan produk atau aktivitas lain. Selain menarik secara bisnis, produk ini

    dapat dijadikan jalan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat berasuransi. Oleh: Windarto

  • Investor | Referensi Investasi - 100 Top Emiten 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA ANTISIPASI EMITEN HADAPI ERA DIGITAL Era digital menciptakan peluang dan tantangan. Namun, bisa juga menjadi ancaman bagi yang tak siap. Agar tidak terlindas oleh perkembangan zaman, perusahaan publik pun dituntut untuk makin inovatif dan antisipatif. Bagaimana kinerja emiten tahun 2016? B

    agaimana emiten menggenjot kinerjadi tengah ketatnya persaingan pada era digital ini? Oleh: Komang Darmawan PERINGKAT EMITEN 2016 Setelah melalui proses cukup panjang, Dewan Juri akhirnya menetapkan delapan peraih nominasi Emiten Terbaik 2016. Dari kedelapan emiten itu, kemudian dipilih lima emiten

    sebagai “Top Performing Listed Companies 2016”. Oleh: Komang Darmawan 17 EMITEN YANG UNGGUL DARI PERSAINGAN SEKTORAL. Meski jumlah emiten yang lolos seleksi awal menurun tahun ini, emiten yang jadi juara sektor justru meningkat. Jika tahun lalu hanya 14 emiten yang berhasil jadi juara

    sektor dari 18 sektor, tahun ini ada 17 emiten yang jadi juara sektor. Oleh: Frans S.Imung

  • Investor | Referensi Investasi - Adu Layanan Priority Banking | Majalah Investor

    INVESTAMA LAYANAN EKSKLUSIF PERBANKAN UNTUK NASABAH BERDUIT Nasabah kaya memiliki posisi strategis di mata lembaga perbankan. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan, nasabah kaya dan superkaya menguasai hampir 60% dari total simpanan perbankan nasional. Bagaimana perbankan menjaga agar para nasa

    bah tajir tetap loyal? Bank mana yang menjadi pilihan kaum berduit itu? Oleh: Komang Darmawan PROFIL LAYANAN PRIORITY BANKING OCBC NISP Wealth Management | PermataBank Priority | HSBC Premier | DBS Treasures | Standard Chartered Priority | BNI Emerald | Citigold | BRI Prioritas STRATEGI BARU NASA

    BAH TAJIR BETERNAK UANG Pergerakan pasar saham yang cenderung ‘volatile’ membuat nasabah kaya perbankan mulai melakukan diversifikasi investasi. Reksa dana pendapatan tetap dan campuran yang agresif jadi pilihan. Oleh: Mashud Toarik & Fajar Widhiyanto ASIA PASIFIK, TERBANYAK ORANG K

    AYU BARU Jumlah para miliarder bertambah pesat di kawasan Asia. Sementara pelemahan ekonomi yang terjadi di Amerika dan Eropa menghambat lahirnya orang kaya baru di Negara Paman Sam dan Benua Biru. Oleh: Parina Theodora SPOTLIGHT AIRLANGGA HARTARTO: RUU “TAX AMNESTY” HARUS SEGERA DISAHK

    AN Pemerintah dan parlemen harus segera mengesahkan RUU Tax Amnesty, untuk  dijadikan dasar hukum pengampunan  pajak para wajib pajak yang masih menyimpan dananya di luar negeri. Keberadaan UU Tax Amnesty pada akhirnya akan menjadi upaya pengisi kekurangan penerimaan pajak.  Oleh: Faj

    ar Widhiyanto PERGESERAN INVESTASI ASURANSI PASCA KEWAJIBAN SBN Keharusan menempatkan investasi di Surat Berharga Negara (SBN) menuntut perusahaan asuransi lebih jeli dalam mengatur dana investasi agar tetap mendapat hasil optimal. Apa dampak kebijakan pemerintah itu terhadap hasil investasi asuran

    si? Oleh: Windarto WAWANCARA : ILHAM AKBAR HABIBIE KOmIsarIs Utama Pt POllUX HabIbIe INterNatIONal POLLUX MEMBANGUN IKON UNTUK BATAM

  • Globe Asia - Setya Novanto – New Golkar Chief Means Business | Globe Asia

    Businessman and politician ready to lead the second largest political party The election of Setya Novanto as Golkar Party’s new chairman in May opened a new chapter in the long-running saga of Indonesia’s oldest political party. One of his first moves was to throw the party’s weigh

    t behind President Joko Widodo.

  • Globe Asia - 150 RICHEST INDONESIANS 3rd GENERATION  | GLOBE ASIA

    The third generation starts to make its mark Indonesia’s wealthiest families continue to do well despite challenging global and domestic business environment  

  • Globe Asia - ON THE FAST TRACK | GLOBE ASIA

    Growth of e-commerce Indonesia needs a new engine to fuel economic growth. With commodities having slumped and manufacturing still  to take off, much hope is being placed on consumption to be that new engine.   And with more and more Indonesians turning to the internet on their smartphones

    , e-commerce could just be what Indonesia needs to boost economic growth and raise living standards across the archipelago. According to the Asian Development Bank (ADB), countries with heavily congested cities see rapid growth of e-commerce as people spend more time with their mobile devices while

    stuck in traffic to chat and shop online.   E-commerce is just taking off in Indonesia and the country lags behind other Asian economies. In China, e-commerce contributed between 9% and 10% of gross domestic product (GDP) in 2015, compared to less than 1% in Indonesia.   Indonesia’s

    e-commerce market was estimated at Rp18 trillion ($1.2 billion) in 2015 with 37 million consumers from a total population of 255 million. This is still relatively small but it is growing fast, up from Rp12 trillion and 27 million consumers in 2014.   The Internet Service Providers Association e

    stimates that the e-commerce market will reach Rp25 trillion with 49 million consumers in 2016. Such figures indicate that the e-commerce market is ripe for growth. Currently there are a clutch of e-commerce players in the country with MatahariMall.com and Lazada being the top two e-commerce firms.

      Size alone, however, is no guarantee  for success. Market knowledge, efficiency and security of payments are critical factors for success. Consumer trust and brand awareness are the most important ingredients.   Bridging the gap As MatahariMall.Com CEO Hadi Wenas notes in our cover

    story, e-commerce is opening up the country and allowing Indonesians from all corners to buy merchandise online which may not be available where they live.   MatahariMall.Com already receives orders from more than 400 cities across the archipelago. It would not have been possible for brick and

    mortar retail players to have such reach as it would be just too costly to open stores in every small town and village.   Thus e-commerce is bridging the gap between the urban and rural areas. E-commerce allows every Indonesian with access to the internet to shop online and even transact busine

    ss online, which is critical for hundreds of small- and medium-sized companies.   So beyond just boosting retail sales, e-commerce has the potential to also boost the manufacturing sector if it enables more companies to sell their merchandise at competitive prices. The internet has changed how

    we live, work and play.   Now with e-commerce starting to grow in Indonesia, it also has the potential to take the economy to the next level of growth.   Shoeb Kagda Editor in Chief shoeb@globeasia.com

  • Investor | Referensi Investasi - 50 Reksa Dana Terbaik | Majalah Investor

    INVESTAMA PERLU LANGKAH STRATEGIS HADAPI PERSAINGAN REGIONAL Dengan nilai aktiva bersih reksa dana sekitar Rp 277 triliun dan jumlah investor tak lebih dari 350 ribu, industri reksa dana Indonesia saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara di Asean. Perlu akselerasi pertumbuh

    an dan langkah strategis agar Indonesia bisa bersaing di kancah regional. Oleh: Komang Darmawan

  • Investor | Referensi Investasi - INALUM CONTOH SUKSES NASIONALISASI | MAJALAH INVESTOR

    INVESTAMA INALUM, CONTOH SUKSES “NASIONALISASI” ASET Kinerja PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) langsung moncer hanya setahun setelah resmi menjadi BUMN. Pertumbuhan bisnis yang cerah membuat BUMN ini direkomendasikan jadi model bagi pemerintah dalam menangani kontrak karya PT Freep

    ort Indonesia. Saatnya aset-aset terbaik Merah Putih dikelola anak-anak bangsa. Oleh: Frans S. Imung

  • Investor | Referensi Investasi - Pilihan Investasi 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA MEMILIH PAKET INVESTASI YANG TEPAT 2016 Saham diyakini menjadi instrumen investasi yang menjanjikan tahun 2016. Setelah mencatat penurunan tahun 2015, bursa saham diperkirakan segera rebound. Lalu, saham apa saja yang layak dikoleksi pada tahun 2016? Bagaimana pula prospek produk investasi

    lain, seperti obligasi korporasi, surat utang negara, sukuk, reksa dana, dan instrumen pasar uang? Oleh: komang darmawan

  • Investor | Referensi Investasi - Tokoh Finansial 2015 | Majalah Investor

    INVESTAMA BUMN BESAR, KUAT, DAN LINCAH PENGUSUNG NAWACITA Kala mengumpulkan para direksi perusahaan pelat merah, Presiden Joko Widodo berpesan agar para petinggi BUMN berupaya mendorong sinergi, inovasi, serta konsolidasi melalui pembentukan holding. BUMN juga diberi ruang untuk revaluasi aset agar

    punya peluang akses pendanaan untuk ekspansi. Sasarannya BUMN bisa menjadi besar dan kuat dari bisnis, lincah memanfaatkan peluang, dan mampu bersaing di level global. Terinspirasi program Nawacita. Oleh: Frans S Imung SPOTLIGHT NUSANTARA AJAK JEXWAY INVESTASI TOL RP 26 T. Nilai pasar saham Nusant

    ara Infrastruktur (NI) dianggap jauh dari kondisi fundamental dan prospek bisnis perseroan masa datang. Mengandalkan pertumbuhan organik, asset NI ditargetkan mencapai  Rp 8,8 triliun tahun 2018. Oleh: Mashud Toarik GWM PRIMER TURUN, BUNGA KREDIT BISA TURUN. Kebijakan penurunan Giro Wajib Min

    imum (GWM) primer dari  angka 8% menjadi 7,5% yang berlaku  mulai 1 Desember 2015 diproyeksikan akan memberikan ruang lebih besar buat bank untuk berekspansi. Akan ada dana tambahan dalam sistem perbankan nasional sebesar Rp 18,22 triliun. Oleh:  Fajar Widhiyanto WAWANCARA: ACHM

    AD BAIQUNI, DIREKTUR UTAMA PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK BNI HARUS UNGGUL DALAM LAYANAN DAN KINERJA “Kami sudah ‘review’ kembali visi kami ke  depan, dari bank yang unggul dan terdepan  menjadi lembaga keuangan yang unggul dalam layanan dan kinerja. Kami pun

    ya  multifinance, sekuritas, life insurance  dan DPLK. Jasa DPLK kita tawarkan juga pada nasabah. ke depan kami berencana memiliki asuransi kerugian.”

  • Globe Asia - Digital Solution For SME | Globe Asia

    I t is fast dawning on both the government and the private sector that Indonesia’s small and  medium enterprises (SMEs) need to be empowered to join the digital age if Indonesia’s economy is to grow sustainably in the coming years.   SMEs form the backbone of the national econo

    my but have been largely ignored in the push to develop a digital economy. Until now that is.   There are an estimated 55 million SMEs in the country although a large chunk of these are small mom and pop stores. Nevertheless, there are still a large number of SMEs that employ between 20 and 100

    staff and have a turnover of more than Rp10 billion a year.   Getting these enterprises on a digital platform, according to analysts, would add an extra 2 percentage points to gross domestic product (GDP).  President Joko Widodo, on a recent trip to Silicon Valley, emphasized the need to

    empower SMEs by helping them digitalize. But that will be easier said than done.  The SMEs are spread across many islands  and often operate in smaller cities. They are handicapped by lack of access to capital and expertise to handle ICT and technology. 

  • Globe Asia - Joko Widodo Transformational President | Globe Asia

    The man of the people is leading Indonesia into a brave new world.  

  • Globe Asia - POWER 50 | Globe Asia

    Indonesia Economic Forum 90 A historic opportunity for Indonesia The rise of the digital economy and acceleration of infrastructure development were the key themes at this year’s Indonesia Economic Forum (IEF). With speakers from the region and around the world, the IEF provided an ideal platf

    orm for business leaders, policymakers and investors to gather to discuss both the opportunities as well as the challenges that confront the nation.

  • Globe Asia - The Future Economy | Globe Asia

    “I think its great that the theme of your Indonesia  Economic Forum is heavily flavored with the digital economy. That is another  perfect example of a bright spot in the economy.”   Tom lembong minister of Trade

  • Investor | Referensi Investasi - Rebound | Majalah Investor

    MOMEN ‘REBOUND’ TELAH TIBA Empat paket kebijakan ekonomi yang berjenjang mulai dari level policy, sampai tahap aplikasi yang bersentuhan langsung dengan dunia usaha dan kehidupan masyarakat mulai membuahkan hasil. Setidaknya memulihkan kepercayaan pasar bahwa perekonomian Indonesia sedan

    g dalam jalur yang tepat untuk segera pulih. Pasar saham pun merespons positif. Peluang untuk rebound makin terbuka, meski sentimen global diyakini masih akan ikut mempengaruhi tren pemulihan tersebut. Saatnya kalangan perusahaan broker untuk berbenah, merespons peluang pemulihan pasar saham tersebu

    t. Oleh: Frans S Imung

  • Investor | Referensi Investasi - 20 Best Syariah | Majalah Investor

  • Globe Asia - 100 Top Groups | Globe Asia

    Indonesia needs to be more competitive Words can often take on  a force of their own.  Once uttered, they cannot  be withdrawn.   Over recent weeks the  government of President Joko Widodo has been busy meeting business leaders, economists, academics and bankers to get a bet

    ter sense of what is ailing the economy.   As Suryo Bambang Sulisto, the chairman of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin), put it at a recent gathering of business leaders, “we need to get the real pulse of the economy.”   But how does one get the real pulse

    of the economy? For the government, it should be through mining data and looking at fundamental indicators as well as by talking to business. For the businessmen, it is studying the bottom line and sales orders.   So the question then is does anyone know what is truly ailing  the Indonesia

    n economy? There is no doubt that the broad economy  is struggling.   Consumption, the key driver of gross domestic growth over the past few years, is slowing rapidly. Across the board, consumers are tightening their belts and sales are down by 30% for goods and services.   The govern

    ment says part of the problem has been an over-reliance on imports, which has raised the current account deficit. Indonesia imports too many goods and services and does not produce enough domestically.   So import substitution has become a buzz word. At a recent event, the head of the Sahid Gro

    up told the audience that Indonesia must slash the import of manufactured goods if the country is to regain economic vigor.   But import substitution in many circles is a pseudonym for protectionism and economic nationalism. Growing economic nationalism is seen as a threat to Indonesia’s

    long-term economic future as it raises trade barriers and encourages poor standards.   If more and more Indonesians utter the words “import substitution” the words will take on both economic force as well as social dominance. Anyone arguing against this policy will be tainted as unp

    atriotic and anti-Indonesia.   No nation wishes to have its economy and currency controlled by an outside force. Every elected government has a duty to protect the self-interest of the country and the people. President Joko Widodo too has a duty to ensure that his government’s policies ul

    timately benefit the Indonesian people.   The challenge is how does one achieve this goal? Is import substitution the best way to do it? Or is keeping an open economy, encouraging competition and  prioritizing industries in which  Indonesia has a clear economic advantage the better pa

    th to take?   Shoeb Kagda Editor in Chief shoeb@globeasia.com  

  • Investor | Referensi Investasi - 20 BEST INSURANCES COMPANIES | MAJALAH INVESTOR

  • Globe Asia - STILL GOING STRONG | GLOBE ASIA

  • Globe Asia - 150 Richest Indonesians | Globe Asia

  • Investor | Referensi Investasi - 50 Best Bank | Majalah Investor

    INVESTAMA MEWASPADAI BENGKAKNYA KREDIT BERMASALAH Perbankan nasional kini dihadapkan pada ancaman membengkaknya kredit bermasalah, meningkatnya beban provisi dan menipisnya margin laba. Di sisi lain, agar dapat bersaing di kancah global, perbankan Indonesia juga dituntut memiliki struktur modal yang

    kuat. Bagaimana posisi bank nasional jelang integrasi ekonomi Asia Tenggara? Oleh: Komang Darmawan SPOTLIGHT PELINDO IV RAIH KREDIT RP3 TRILIUN. Bank Mandiri mengucurkan kredit investasi untuk PT Pelabuhan Indonesia IV (Pelindo) senilai Rp 3 triliun. Dana tersebut untuk mendukung pembangunan Makas

    sar New Port serta modernisasi peralatan di berbagai wilayah kerja perseroan. Oleh: Fajar Widhiyanto SWASTA BOLEH KELOLA AIR BERSIH Investor swasta masih dibutuhkan untuk ikut menyediakan akses air bersih bagi masyarakat hingga lima tahun mendatang, kendati Mahkamah Konstitusi (MK) telah membatalka

    n Undang-Undang No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA). Oleh: Fajar Widhiyanto ASURANSI ERA DIGITAL, MEREBUT PASAR LEWAT 'DIGITAL MARKETING'. Persaingan asuransi sudah memasuki ranah aplikasi teknologi informasi (digital). Selain membangun infrastruktur TI, perusahaan ramai-ramai men

    erapkan digital marketing sebagai sarana menggaet pasar yang lebih luas. Oleh: Windarto PEMERINGKATAN BANK 2015, BCA, BRI, MANDIRI MASUK "3 BESAR" BANK PAPAN ATAS. Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Mandiri kembali terpilih sebagai  tiga bank terbaik di kategori bank

    dengan aset di atas Rp 100 triliun. Oleh: Komang Darmawan SEKTOR RIIL TIARAP, KREDIT PUN SERET. Kredit perbankan diragukan bisa mencapai target yang ditetapkan regulator, baik Bank Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan. Pasalnya sector riil penyerap kredit tengah mengalami kelesuan. Oleh: Fajar W

    idhiyanto PERTUMBUHAN 'DOUBLE DIGIT' MENUJU PEMAIN DUNIA “Strategi pengembangan bisnis kami organic dan anorganic, baik plantation, food dan rice. Untuk Taro kita sudah punya brand besar  sejak 1985. Jadi fokus kami bagaimana  membuat Taro lebih hebat lagi. Sekarang kami aka

    n memperluas export market. Kami sudah ekspor ke hampir 20 negara sejak dua tahun lalu. Dari sisi produksi juga bertambah seiring penambahan pabrik dan mesin, serta perluasan distribusi.”

  • Investor | Referensi Investasi - 100 TOP EMITEN 2015 | MAJALAH INVESTOR

  • Investor | Referensi Investasi - Strategi Bank Menjaring Nasabah Kaya | Majalah Investor

  • Globe Asia - WORKING FOR WORKERS | MAJALAH GLOBE ASIA

  • Globe Asia - INDONESIA AT THE FOREFRONT | MAJALAH GLOBE ASIA

LOAD MORE