REGISTER NEW ACCOUNT

By signing up, I agree to Myperpus Terms and Condition

Register with Facebook

Majalah banner

  • Sarasvati - STREET ART KALIJODO

    KALIJODO yang dulu terkenal sebagai area prostitusi, kini lahir kembali menjadi ruang public terpadu ramah anak (RPTRA). Yori Antar yang merancang. Ada skate park dan tembok lebar bergraffiti yang dikurasi tim kreatif bernama Artsip Jakarta, Berisi para professional dengan macam-macam latar belakang

    . Tim Artsip Jakarta membebaskan 11 seniman untuk berkarya, menjadikan tembok sebagai kanvas mereka menginterpretasi Kalijodo, wilayah bersejarah bagi masyarakat Tionghoa Betawi, tanpa kata-kata kasar atau pun pornografi. Keindahan yang sebelumnya tak terbayangkan bisa hadir di tempat ini sekaligus

    menjadikannya tempat libur keluarga. Sarasvati edisi Maret juga mengangkat “keisengan” seniman asal Prancis Enora Lalet dalam mengutak-atik makanan menjadi busana. Kulit durian menjadi helm, kacang polong dia jadikan kacamata, dan wig dari wafer. Lebih dari 20 karyanya dipamerkan di Sela

    sar Sunaryo Art Space, Bandung dalam tajuk “Tata Boga”. Dengan makanan lokal sebagai material karya, dia membuat relasi yang lebih leluasa antara makanan dan tubuh. Kabar lain datang dari sastrawan, kolumnis, dan pewarta senior Goenawan Mohamad (GM) yang mengadakan pameran “Kata, G

    ambar”. Tak kurang 200 sketsa karya GM dipamerkan di Dia.Lo. Gue Artspace, Jakarta. Tak banyak yang tahu, ternyata sudah lama GM suka membuat sketsa, yang digerakkan oleh sajak dan tulisan, menghasilkan sketsa dengan guratan yang sama bernas dengan Catatan Pinggir-nya. Di Gedung OLVEH, Kota Tu

    a Jakarta, Tempo School of Photography menggelar pameran bertajuk “New Sets of Eyes”. Pameran ini melibatkan 26 siswa dari tiga angkatan kelas dasar di Tempo School of Photography, dan dikuratori Aditia Noviansyah dan Eka Nickmatulhuda. Para fotografer muda ini mulai menemukan gaya merek

    a dari objek-objek keseharian. Foto yang bercerita, yang punya sentuhan personal. Pameran berlangsung hingga 4 Maret 2017. Jangan lewatkan feature khas kami tentang peluang pendanaan swadaya seniman serta ulasan pameran lukisan karya Leo Budhi, arsitektur rumah Sabu, musik Maladialum, dan perjalanan

    ke kediaman konglomerat Oei Tiong Ham di Semarang. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Sarasvati - SENI, MANUSIA, DAN ALAM SEMESTA

    PADA 1977, dua wahana luar angkasa, Voyager 1 dan 2 diluncurkan NASA untuk melakukan penjelajahan sistem tata surya yang belum diketahui. Masing-masing di dalam wahana tersebut, NASA menempatkan piringan suara yang terbuat dari emas, dengan nama Voyager Golden Record. Di dalam Record tersebut, tersi

    mpan sejumlah rekaman suara-suara dari bumi, galeri foto, hingga komposisi musik karya sejumlah komposer, dan salah satu yang terpilih adalah Puspawarna, komposisi gamelan Jawa yang liriknya diciptakan  Pangeran Adipati Arya Mangkunegaran IV (1853-1881) dan dimainkan oleh Tjokrowasito (1909-200

    7). Piringan suara ini diharapkan menjadi pembawa pesan tentang kehidupan manusia di bumi kepada kehidupan di luar bumi. Di sinilah seni telah dinilai sebagai unsur yang mewakili peradaban manusia, sehingga NASA memilihnya untuk memperlihatkan pencapaian manusia dalam mengelola hidupnya dan planet t

    empat ia bermukim. Sehingga pantaslah jika dunia seni Indonesia mulai mengarahkan perhatiannya pada seluk beluk luar angkasa. Di edisi inilah kami memunculkan peristiwa seni dari Venzha Christiawan, seniman Indonesia yang terpilih oleh NASA untuk menampilkan karya wahananya di Marina Bay Sands, Sing

    apura. Lewat karyanya ini, Venzha yang memang dikenal di Indonesia sebagai seniman yang konsisten mengangkat tema-tema ekstraterestrial, diundang NASA untuk menampilkan karyanya di pameran “NASA – A Human Adventure” di ArtScience Museum, Singapura, pada 19 November 2016 – 19

    Maret 2017. Pameran ini diharapkan bisa membuka wilayah inspirasi seniman Indonesia, untuk merambah pada bidang-bidang sains seperti luar angkasa. Pada edisi ini pula, kami mengulas tentang praktik kerja kolektif yang muncul dari Milisifotocopy dan pameran Sindikat Campursari. Pada Milisifotocopy, k

    ita bisa melihat sebuah kolektif seniman yang menggunakan praktik-praktik seni untuk mengangkat masalah-masalah sosial masyarakat. Sedangkan Sindikat Campursari merupakan pameran yang mengumpulkan seniman dari beragam latar belakang untuk bersama-sama bekerja dan tinggal di ruang pameran selama tiga

    minggu. Kami juga menampilkan sejumlah pameran seniman Indonesia di negara lain untuk edisi Februari 2017. Yaitu pameran Dadi Setiyadi dan Awang Behartawan di Kopenhagen, Denmark, pameran Indieguerillas di Singapura, serta pameran tunggal Lugas Syllabus di Manila, Filipina. Dari pameran seniman-sen

    iman kita di negara lain inilah kita bisa berharap bahwa seni rupa Indonesia semakin mendapat tempat secara internasional. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Kabare Magazine - YANG TERLUPAKAN DARI JALUR REMPAH

    Bila dalam edisi Maret 2017 ini, kami kembali mengangkat tema rempah, seiring dengan upaya para pihak mengangkat kembali pamor rempah nusantara. Misalnya, Dewan Rempah Nasional, berupaya mendong  krak kembali pamor cengkih, pala, lada dan lainnya. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata, di t

    engah peringatan Hari Pers Nasional di Ambon me­launnching wisata tematik jalur rempah, karena mempunyai potensi wisata budaya, alam, bahari dan kuliner khas nusantara. Dan Pemprov Maluku akan menggelar Peringatan 350 Tahun Perjanjian Breda di Banda dan New York. Dengan perjanjian Breda antara B

    elanda dan Inggris tahun 1667 itulah,  Pulau Rhun sebagai penghasil pala di Maluku, ditukar dengan Pulau Manhattan AS. Kini Manhattan bersinar, dan Rhun meredup. Sidang pembaca yang budiman, Juni nanti usia Majalah Kabare tepat 15 tahun. Lahir dan besar di Yogyakarta, lalu kantor pusatnya hijra

    h ke Jakarta medio 2015. Di bawah Kabare Media Group, Majalah Kabare, dalam turut memajukan kebudayaan Tanah Air, bersinergi dengan Kabare.co dan Kabare Production. Kini, banyak rencana yang tengah disusun, untuk menyambut usia 15 tahun itu. Salah satunya adalah untuk lebih memuaskan pembaca dengan

    sajian karya­karya jurnalistik yang dapat menjadi ru jukan  terpercaya. Seiring dengan kebutuhan waktu berbenah, kami mohon izin setelah edisi ini, kita jumpa lagi pada setiap bulannya mulai awal Juni 2017. Pada masa rentang waktu itu, pembaca dapat mengikuti perkembangan kami di kabare.co.

    l

  • Sarasvati - JAKARTA CONTEMPORARY CERAMICS BIENNALE IV

    KERAMIK sering kali masih dipandang sebagai media yang “crafty” dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Mungkin dengan arus kekinian yang lebih memandang multimedia dan instalasi sebagai seni yang mewakili semangat kontemporer, seni keramik hampir dianggap sama posisinya dengan seni lu

    kis dan patung, yaitu seni yang masih berdaya di kalangan pecinta seni rupa modern. Namun dalam Jakarta Contemporary Ceramics Biennale, publik seni diajak untuk menerima dan bahkan memuji bagaimana media ini lentur dalam mengikuti perkembangan zaman. Karya-karya yang ditampilkan dalam perhelatan dua

    tahunan di Galeri Nasional Indonesia ini memperlihatkan bentuk-bentuk visual yang memikat, patut dipuji, dan menghilangkan batasan-batasan yang dibayangan khalayak awam tentang keramik. Bahkan yang patut sangat didukung adalah bagaimana panitia dan kurator JCCB ini menciptakan platform residensi da

    n kolaborasi tempat senimanseniman yang bahkan bukan berangkat dari media keramik, diajak serta untuk menciptakan karya keramik. Residensi Di tempat-tempat yang tak melulu sanggar atau studio keramik, juga bisa menjadi cara menyebarkan virus kreatif bagi perusahaan-perusahaan keramik yang ikut berpa

    rtisipasi. Di edisi ini pula kami mengangkat bagaimana perkembangan seni rupa kontemporer telah menempatkan arsip sebagai pijakan penciptaan karya. Di Indonesia mungkin hal ini belum terlalu banyak dieksplorasi, namun dengan melihat contoh-contoh karya berbasis arsip dari seniman-seniman di belahan

    dunia lain, maka seniman Indonesia bisa mendapatkan tambahan dan perluasan eksplorasi ide dan tema. Sejumlah peristiwa menarik lainnya yang kami angkat di edisi ini adalah kompetisi trimatra dari Galeri Salihara yang menyajikan karyakarya pemenang kompetisi; menjadikan public seni ikut mengikuti per

    kembangan terkini yang dicapai seniman-seniman trimatra di Indonesia. Acara Menarik lainnya adalah pameran terbaru Nasirun Di Museum Nuarta Yang menampilkan upaya Nasirun Merespons patung-patung I Nyoman Nuarta Yang ada di sana. Kami Juga mengangkat praktik kekaryaan Iwan Effendi, Sosok yang bertang

    gung jawab dalam kreasi boneka khas Papermoon Puppet Theater. Karya-karya Boneka tersebut ikut dipamerkan sebagai bagian Pesta Boneka #5 yang berlangsung Desember silam. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • Label Free Kabare Magazine - PARA RAJA DAN SULTAN MENGGUGAT | KABARE MAGAZINE

    KERATON MARAH! Akhirnya “bisul” Keraton Nusantara itu pecah di Kutaringin, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Di puncak Festival Kraton Nusantara (FKN) X, Oktober silam. Sekaligus menjadi bukti, bahwa Raja dan  Sultan juga manusia. Maka, setelah sekian lama para Raja dan Sultan yang

    bergabung dalam Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se­Nusantara (FKIKN), memendam perasaan dan pikiran bertahun­tahun,  mereka pun terang­terangan menuntut pemerintah melalui Deklarasi Kutaringin.    “Kami para Raja dan Sultan menuntut peran baru bagi kami d

    alam proses pembangunan bangsa dan negara sehingga tidak sekedar jadi penonton. Kami menuntut komitmen Pemerintah dengan leluhur kami di saat mendirikan NKRI untuk tidak diingkari,” begitu bunyinya. FKIKN ini tidak sendirian. Kelompok Raja dan Sultan lainnya, yang tergabung dalam Yayasan Raja

    dan Sultan Nusantartara (Yarasutra), September lalu, di Sulawesi Selatan, lewat Deklarasi Yarasutra juga melontarkan tuntutan. “Kami ada sebelum kamu ada. Kamu ada karena kami akui kamu ada. Tidak ada alasan buat kamu untuk tidak mengakui kami.”  Yang dimaksud  kamuadalah 

    Pemerintah NKRI, dan kami adalah Kerajaan dan Kesultanan. Sejarah mencatat, demi terbentuknya NKRI, para Raja dan Sultan telah rela berkorban, antara  dengan menyerahkan wilayah (tanah), kerajaan, uang, hingga harta benda.  Kini di era demokrasi, para penerus Raja dan Sultan merasakan, ap

    a yang dahulu disepakati ayah atau nenek moyang mereka dengan Soekarno, Bapak Prok lamator dan Presiden pertama Indonesia, diingkari oleh penguasa   sekarang.  Tidak bisa dipungkiri bahwa semasa pra kemerdekaan, kerajaan­kerajaan di Tanah Air punya peran besar dalam mengantar Nusa

    ntara kedepan pintu kemerdekaan Indonesia. Beberapa kerajaan besar yang  pernah berjaya pada masanya, yaitu  Kutai  ( tahun 300 – 1400M ), Taruma Negara ( tahun 500 s/d 750 M ), Sriwijaya dan Melayu (tahun 650 – 1200M),  Pagaruyung ( tahun 1100 – 1400 M ), 

       Singosari  (tahun 1200 – 1300 M ),  Majapahit (tahun 1300 – 1550 M ) , Mataram, Kertosuro,  Kasunanan Solo, Kasultanan Yogya, dan Keraton se Nusantara. Masing­masing meninggalkan warisan kultural, yang bisa dilacak jejaknya pada masyarakat tempatan. Dan sa

    mpai hari ini, masih cukup banyak yang menjadi rujukan kultural bagi masyarakat pendukungnya. Meski harus diakui kekuatan keraton telah ber geser, dulu “tuntunan”, sekarang sekedar “tontonan” pariwisata. Keberadaan UU Cagar Budaya, kemudian disusul Permendagri Nomer 39 tahun

    2007 tentang Pedoman Falisitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat dalam Pelentarian dan Pengembangan Budaya Daerah, merupakan paying hukum, sekaligus amanat bagi pemerintah untuk me­ lakukan “pembinaan”. Namun dengan maraknya forum Raja, Sultan, K

    eraton, ditambah munculnya raja­raja ga­ dungan, raja kembar, dan lain­lain, pemerintah memang perlu melakukan pendataan melalui system akre ditasi yang berakar pada fakta sejarah, dan bukan pa da factor suka atau tidak suka. Untuk tugas itu, peme rintah bisa menggandeng Masyarakat Sejar

    awan Indonesia (MSI). Akhirulkalam, perlu kita sadari bersama bahwa Deklarasi Kutaringin Yang sangat eksplisit itu, merupakan babak baru yang nyata dalam tata hubungan “batin”, antara Raja dan Sultan  dengan Pemerintah RI. Sungguh terpuji, jika pemerintah Djoko Widodo melalui menter

    i­ menteri terkait, dengan kearifannya mau menanggapi dan mencari solusi terbaik. Agar Raja dan Sultan yang menghendaki “peran baru” di masa kini menemukan bentuknya yang nyata, saling menguntungkan, memperkokoh NKRI, dan dapat memajukan kebudayaan Indonesia. Teriring salam hangat, Y

    usuf Susilo Hartono Wapemred/Penanggung Jawab

  • Label Free Kabare Magazine - MEMBANGUN CITRA BISNIS DI DUNIA SENI | KABARE MAGAZINE

    PENTINGNYA CSR DAN MAESENAS SENI BUDAYA Coba teliti di balik kebesaran Teater Koma, Komunitas Salihara, Padneswara, Artjog, Java Jazz, Indonesia Dance Festival, Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan Indonesia Art Awardnya, Yayasan Total Indonesia, Bentara Budaya, koreografer Sardono W.Kusumo, sineas Ga

    rin Nugroho, aktor Butet Kertaradjasa, musisi Dwiki Dharmawan, dan lain-lain. Pasti ada maesenas (pendukung kebudayaan, pendukung seni, dan pengayom seniman) atau CSR (Corporate Social Responsibilty) sebagai penyandang dana di belakangnya. Dan Hal itu bisa terwujud, tidak dengan tiba-tiba (Jawa = uj

    uk-ujuk),  seperti  bintang jatuh dari langit, melainkan mereka membinanya dengan penuh keuletan, kesabaran, dan dalam  waktu bertahun-tahun. Sebelum mereka besar, pada umumnya berdarah-darah, Istilah lain dari perlu pengorbanan, usaha keras, kesabaran membangun jejaring, dan tetap be

    rkarya dengan menunjukkan ciri khas dan kemajuan demi kemajuan. Dan Setelah mereka “punya nama”, maka yang tadinya rajin mengejar, gentian kini “dikejar” oleh sponsor, dalam hal ini termasuk CSR, dan maesenas. Atau sama-sama mengejar, karena sama-sama butuh. “Soal menda

    patkan sponsor itu sifatnya jodoh-jodohan. Pihak Sponsor tentu punya kriteria ‘tokoh’ Yang dapat memperkuat dan membangun brand image,” ujar Candra Darusman Menuturkan pengalamannya. CSR dan  maesenas yang telah mengucurkan uang itu, membutuhkan citra atau komitmen dari seseor

    ang atau produk yang didanai. Tentu saja ini membutuhkan chemistry, atau senyawa yang kuat antara yang memberi dan yang diberi. Agar sama-sama mendulang manfaat, dimata masyarakat. Rusaknya Senyawa itu, hanya akan meruntuhkan kepercayaan sepihak atau parahnya kedua belah pihak. Oleh Karena itu, peng

    galangan dana ini harus ditangani secara hati-hati, dan berkelanjutan. Mungkin Tidak harus senimannya sendiri yang maju, tapi ada pihak (tim/panitia) yang mewakilinya. Perusahaan-perusahaan yang peduli dengan program seni budaya di Tanah Air, Jumlahnya banyak. Beberapa Diantaranya Bank Mandiri, Bank

    BCA, Bank UOB, Bank BRI, Bank BNI, Djarum Foundation, Sampoerna, Yayasan Ciputra, dan lain-lain. Sedangkan beberapa lembaga asing diantaranya Ford Foundation, Japan Foundation, Rockefeler Foundation, Goethe Institut, Prince Claus Fund, Hivos, Britis Council. Masing-masing lembaga itu memiliki pilih

    an seni, selera, dan arah kebijakan sendiri. Oleh karena itu bagi seniman atau group yang ingin mengajukan proposal, mesti paham dulu  minatan mereka, agar bisa tembus dan tidak sia-sia. Di era internet sekarang, mereka bisa di lihat melalui website, facebook, dan media publikasi/ promosi merek

    a masing-masing. Seringkali terdengar keluhan dari berbagai perusahaan yang ingin (ikut) Membantu memajukan seni budaya kita adalah masalah pajak. Mereka berfikir, bagi perusahaan yang turut membina seni budaya akan dapat keringanan pajak. Baik itu  bantuan dana  untuk penelitian, pementas

    an, pameran, pemugaran, pembangunan, hingga pendataan. Keluhan Yang begitu nyaring dari waktu-kewaktu, hingga mereka bosan sendiri, impian tentang keringan pajak ini tidak pernah terjadi. Apalagi Petugas pajak sekarang ini dibebani tugas Negara yang besar, keluhan itu tergilas. Terlepas dari belum a

    danya keringanan pajak, ranah Yang perlu mendapatkan uluran tangan dari CSR Maupun Maesenas Banyak sekali. Tidak melulu pementasan maupun pameran lukisan. Bidang-bidang Penting tapi sering terlewat misalnya pendokumentasian para maestro yang masih hidup, baik dalam bentuk film, video, hingga buku. A

    palagi Kalau kita bicara maestro tradisi, yang sumbernya adalah seniman-seniman tradisi lisan. Kalau sang maestro tradisi mangkat, segala pengetahuan, pengalaman seumur hidup, dan kreativitas yang seringkali di luar teori sekolahan, ikut terkubur. Padahal Sesungguhnya itu penting untuk pembelajaran

    generasi penerus. L Teriring salam hangat, Yusuf Susilo Hartono Wapemred/Penanggung Jawab

  • Label Free Kabare Magazine - JEJAK LANGKAH 14 TAHUN KABARE | KABARE MAGAZINE

    Menapak Era Baru Saat terbit pertama kali,  ada orang yang meramal bahwa  majalah ini akan mati pada  edisi empat atau lima. Akan tetapi,  ramalan   itu meleset dan majalah ini malah  berusia belasan tahun.

  • Label Free Kabare Magazine - JALUR REMPAH SEBAGAI WARISAN DUNIA KENAPA TIDAK? | KABARE MAGAZINE

    Membenahi Wajah Rempah Nasional Pembaca Kabare yang budiman. Dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini, kita tak bisa dilepaskan dari rempah-rempah, seperti lada atau merica, cengkih, pala, jahe, kayumanis, bawang merah dan putih, kemiri, kencur, cabai, asam jawa, temu lawak, dan lain-lain. Sunggu

    h tak terbayangkan bila masakan dan makanan tanpa rempah. Itu sebabnya rempah-rempah adalah nyawa dari lidah, atau bahasa umumnya “nyawa kuliner”.  Selain itu, rempah juga berguna bagi kesehatan dan obat-obatan, lading perdagangan, hingga ilmu pengetahuan. Maka bisa dipahami, rempah

    merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan umat manusia. Tak heran di masa kolonial, bangsa asing dari Eropa dan Asia, saling berburu rempah langsung ke Nusantara, baik melalui jalur darat maupun laut. Jejak-jejak peninggalan budayanya, baik yang bersifat tangible maupun yang intangible masih dapat d

    ilihat sampai sekarang, di Ternate, Tidore, Banda, dan pulau-pulau rempah lain di kawasan Maluku. Bahkan jejak itu melebar sampai Minahasa, Sulawesi Utara, di antaranya kue panada, dan di Jakarta di antaranya keroncong Tugu, hingga bekas-bekas  gudang rempah dan bangunan-bangunan  dengan l

    anggam arsitektur kolonial. Pun, jejak peninggalan budaya tak benda, antara lain pada bahasa Belanda, Arab, China, atau  Portugis yang mewarnai kosa kata dalam bahasa Indonesia.    Dunia mengakui bahwa rempah Nusantara memang khas. Ragamnya banyak dan lengkap. Dan dunia pun sampa

    i saat ini belum lupa, bahwa rempah yang utamanya diproduksi oleh kepulauan Indonesia pernah menjadi primadona dan penggerak utama sejarah dunia. Tapi, di masa kini apakah sang primadona itu, hidupnya bersinar terang secara ekonomi? Apakah seluruh sejarahnya bisa dipahami,  dan dimengerti denga

    n baik oleh anakanak bangsa yang mudah lupa (wong Dasar Negara Pancasila saja banyak yang tidak hapal lho). Untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang rempah Nusantara, sembari melihat persoalan-persoalan kekinian yang terjadi pada dunia rempah-rempah nasional kita, Kabare edisi ini sengaja meng

    angkat Kabar Utama tentang rempah. Sekaligus  mencermati upaya-upaya lebih jauh apa yang harus dilakukan untuk memajukan dunia rempah Indonesia, baik di rumah sendiri maupun di dunia globalinternasional. Pada saat ini, bisnis rempah lebih banyak dilakukan oleh pihak swasta, terutama setelah run

    tuhnya campur tangan  negara dalam kasus BPPC pada masa  pemerintah Orde Baru. Agaknya perlu penelitian lebih lanjut, apakah perkebunan negara masih ada yang mengusahakan  tanaman rempah-rempah, seperti cengkih, lada, pala, kayumanis, dan sebagainya. Kini muncul pemikiran bahwa reputa

    si rempah sebagai warisan sejarah bagi Indonesia perlu dimanfaatkan sebagai aset budaya yang dapat dikembangkan untuk  pariwisata. Jika China telah mampu menjadikan "jalur sutera" sebagai warisan dunia, maka mustinya Indonesia juga mampu mengajukan kepada UNESCO "jalur rempah&quo

    t; sebagai warisan dunia.” Menyusul wayang, batik, angklung, noken, subak, tari Bali, dan lain-lain yang telah lebih dahulu mendapat pengakuan sebagai world heritage culture. Kami juga mendukung pemikiran dan usulan Adi Sasono, Ketua Dewan Rempar Nasional, bahwa bangsa ini perlu memiliki museu

    m rempah nasional yang memadai, dari sudut informasi, teknologi dan tata kelola penyajiannya, hingga bangunan dan ciri khasnya sehingga bisa merepresentasikan jalur rempah Nusantara dan dunia. Harus diakui, pada saat ini kita telah memiliki Museum Rempah-rempah yang dibangun di dalam kawasan Benteng

    Oranye, Kota Ternate, Maluku Utara. Namun sajian koleksinya terbatas pada sejarah lokal, sehingga kurang mampu  menggambarkan wacana rempah pada sekala nasional dan internasional. Semoga!   Salam budaya dari Semanggi

  • Label Free Kabare Magazine - KARYA-KARYA BESAR MENGAMBIL JIWA PELUKISNYA | KABARE MAGAZINE

    Generasi Instan Mengelola Candi Candi-candi yang ada menunjukkan peradaban di Nusantara sudah sangat maju berabadabad lalu.Dunia berdecak kagum dan mengakui konstruksi candi, pahatan, teknik membangun candi,sekaligus artistiknya. Saat Ini, persoalan yang sangat pelik adalah mengintegrasikan pengelol

    aan candi.

  • Label Free Kabare Magazine - BUDAYA MENJADI MAGNET KEDATANGAN TURIS | KABARE MAGAZINE

    Pembasmi Kejahatan Masih di Atas Kertas Tokoh manusia super versi komik Indonesia sangat banyak. Tetapi ketika ingin difilmkan, investor mundur teratur kepentok dana yang sangat super. Tidak heran bila komikus Indonesia tidak berani berharap karyanya dapat menghasilkan ekonomi yang lebih baik.

  • Label Free Kabare Magazine - SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X – PERADABAN YANG TERTUKAR | KABARE MAGAZINE

    Ruang Pamer Karya Perupa Muda Satu-satu… daun muda bersemi…, meniti hidup…, gantikan yang tua…. Sepenggal bait lagu Iwan Fals mengingatkan kita pada dunia seni rupa Indonesia. Bahwa, perupa-perupa muda sudah selayaknya dapat menggantikan posisi maestro sepuh. Tetapi, dima

    na mereka mampu memamerkan karyanya?

  • Sarasvati - JATENG DAN SUMATRA | MAJALAH SARASVATI

    EDISI kali ini menyorot penyelenggaraan bienial yang makin marak di dalam dan luar negeri. Ada yang tepat sasaran, tak sedikit yang sekadar pemanis acara sebuah kota. Tumbuhnya gelaran seni dua tahunan tersebut sebenarnya kesempatan bagi seniman-seniman Indonesia untuk memberanikan diri memasukinya.

    Seperti dilakukan Antonius Kho dan Tiarma Sirait, dua seniman Indonesia yang terpilih menampilkan karya mereka di Asian Art Biennale Bangladesh. Antonius dan Tiarma dipilih lantaran beberapa tahun belakangan aktif membangun jaringan kerja seniman di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dari Singapore Bi

    ennale kita dapat berita menyenangkan. Satu  seniman mewakili Indonesia yang mengikuti Singapore Biennale terpilih sebagai —nalis untuk Bennese Prize, yakni Ade Darmawan dengan karya Singapore Human Resources Institute. Pemenangnya, yang diumumkan pada Januari 2017, akan dikomisi untuk me

    nciptakan site-speci_c installation untuk Bennese Art Site di pulau Naoshima, Jepang. Kami juga menyuguhkan dua cerita dari bienial di dalam negeri. Biennale Jateng mengambil tema “KRONOTOPOS”, dilatarbelakangi warisan budaya yang tersebar di Kota Semarang dan kota-kota lain di Provinsi

    Jawa Tengah. Bangunan-bangunan macam Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Kota Lama Semarang menjadi titik masuk sekaligus inspirasi untuk dihadirkan ulang dalam tafsir visual. Gelaran perdana ini mayoritas diikuti seniman kenamaan yang memamerkan karya-karya lama mereka, tapi belum memunculkan kebaruan cara

    pandang dan visual dari daerah-daerah non pusat seni. Perupa muda mendominasi Biennale Sumatera #3 di Jambi, dengan proporsi 70 persen perupa muda dan 30 persen perupa senior. Namun demikian, sebagian besar karya tak berpijak pada lokalitas. Ramai-ramai menggelar bienial tentu saja baik sebagai seb

    uah inisiasi. Akan disayangkan jika penyelenggaraannya parsial, tak ada interkoneksi antarpenyelenggara. Akibatnya tak ada pewacanaan bersama yang dapat dibangun untuk melihat arah dan masa depan seni rupa ataupun bidang lainnya di Indonesia. Acara sekelas bienial idealnya kanon atas peradaban. Jika

    ada yang belum tepat sasaran, perlu dilacak lagi urgensi penyelenggaraannya bagi sebuah kota/wilayah.  Karya-karya di dalamnya harus mampu memperluas gagasan publik dan menyediakan makna yang berlapis, bukan semata-mata artistik.

  • Globe Asia - INDONESIA ECONOMIC FORUM 2016 | GLOBE ASIA

    Innovate or perish Over the past decade, the world has witnessed a great transformation. Developments in information technology, artificial intelligence, big data analytics, e-commerce and the sharing economy are changing the way we learn, work, shop and travel. At the heart of this transformation h

    as been the emergence of new industries that have utilized the power of the crowd through big data analytics and artificial intelligence. As a result, we are upending long established industries and business processes. This transformation provides huge opportunities but also presents societies with

    enormous challenges. Indonesia must be part of this process. We must contribute to this global movement with our own ideas, initiatives and products. Indonesia cannot afford to sit back and merely consume what the rest of the world offers. This means that as a society we must adopt an innovation cul

    ture that embraces change, even if that change disrupts our established thinking. Innovation drives progress and improves productivity and ultimately helps improves our standard of living and determines the quality of life. In the 21st century, innovation will continue to drive economic and social p

    rogress. This has always been the  case but now science and technology are advancing at mind-boggling speed and the possibilities of innovation are truly infinite.  Imagine if through digitalization  we can provide affordable healthcare  to all 250 million Indonesians?  What

    if we use big data analytics to predict future trends and thus sharpen public policymaking? But even within this constant and rapid change, certain goods and services will always be needed. Textiles and garments will never become sunset industries but factories and companies that do not embrace tec

    hnology and automation may fade away. This is where Indonesia, with its large manufacturing base, relatively cheap labor and a vast consumer market can play a leading role. The internet and the ability to garner and analyze big data have the potential to break down the barriers to more robust econom

    ic growth. But in these changing times, both government as well as the private sector must be more agile in their thinking and actions. We cannot afford to be rigid and close-minded. Policymakers must allow entrepreneurs to test new ideas without restricting them, especially in new areas where there

    are few or no  established rules. Entrepreneurs and investors on their part must be bold and innovative. Our economy and our society face many difficult  challenges ahead.  We must innovate or perish. Shoeb Kagda Editor in Chief shoeb@globeasia.com

  • Label Free View Magazine - VIEW MAGAZINE - NOVEMBER EDITION 2016

    KIM WOO BIN BAD BOY SWEETHEART KOREA SELATAN YANG MENERIMA PREDIKAT AKTOR PALING SOPAN   SNEAK PEEK PERSEMBAHAN YAVADVIPA UNTUK PAPUA 48 JAM PENUH BERSAMA AYAH SIARAN LANGSUNG DUA AJANG MUSIK DI DUA BENUA

  • The Peak Indonesia - The Peak Indonesia Magazine November 2016

    A STATE OF MIND Innovation is a state of mind. It does not belong only in the area of technology or digitalisation. Essentially innovation reflects how we see the world and if we are able to push society forward. We can innovate from the smallest things in our daily life to creating outstanding prod

    ucts such as Steve Jobs or Nadiem Makarim. at its core, innovation lies at the heart of our desire to improve our lives. this definition perfectly fits arnold Limasnax, CeO of e-motion entertainment, the subject of our cover story this issue. Despite having failed in a previous music venture, the en

    trepreneur did not lose heart and instead teamed up with his sister to set up e-motion entertainment on top of running his family’s logistics business. What is particularly impressive is his ability to merge two apparently diverse industries. Only a person of broad perspective and deep insight

    s can see find a way to link logistics and music. “When people comment that logistics and entertainment are so far apart, its actually the reverse,” he tells the peak Indonesia. “they complement each other.” “In entertainment, one learns about research and development,

    production and publishing, promotion, branding-packaging-distribution,” he adds. “While in logistics, it involves services systems, networks, speed and efficiency as well as optimisation, human resources, safety and more.” In the process, he is uplifting many local artists and musi

    cians. his relationship with tompi, whom he met while looking for a wedding singer and with whom he now sings with, is an illustration of arnold’s deep passion for the industry. Without doubt entertainment is a new growth sector in Indonesia and offers huge potential for budding entrepreneurs.

    But as with many other sectors, it too is undergoing a great transformation and disruption so innovation will be critical. Creativity and innovation will continue to drive change not only in the music industry but across the whole economy. Change as they say is the only constant in life.

  • Investor | Referensi Investasi - 50 BUMN TERBAIK 2016 | MAJALAH INVESTOR

    INVESTAMA JALAN PANJANG MENUJU ‘SUPERHOLDING’ BUMN Presiden Joko Widodo telah merestui Kementerian BUMN memproses pembentukan superholding BUMN. Sebelum ide besar itu terealisasi, pemerintah akan merealisasikan rencana pembentukan holding berdasarkan sektor usaha. Tahun ini ditargetkan 5

    holding sektoral terbentuk. Lima holding ini menjadi bagian dari target pembentukan 15 holding secara bertahap menuju superholding. Pada saatnya superholding akan mereduksi peran Kementerian BUMN, sehingga mekanisme korporasi akan jadi panglima dalam pengelolaan BUMN. Namun jalan menuju impian muli

    a itu tampaknya masih akan panjang. Oleh: Frans S Imung

  • Sarasvati - PAMERAN SENI MEDIA INSTALASI KOREA-INDONESIA MEDIA KE-4

    DIALOG Indonesia dengan negara lain menjadi salah satu yang mengemuka dalam edisi ini. Pertama adalah dialog Indonesia dengan skena seni rupa di Asia Tenggara lewat pameran SEA+ Triennale di Galeri Nasional yang berlangsung dari 18 Oktober-10 November 2016. Di pameran yang tahun ini menginjak kali k

    edua, public Indonesia bisa menilai sejauh mana pencapaian, tren, bahkan perbedaan dari seniman negeri sendiri dengan negara-negara lain yang terlibat di pameran SEA+ Triennale. Meski triennial tahun ini memperlihatkan fokus yang didominasi  seniman-seniman muda di Indonesia, masih ditemukan se

    jumlah nama perupa senior dan mapan, yang menurut kurator, untuk mengimbangi dan menjembatani kehadiran seniman-seniman ASEAN yang kemunculan kariernya dari periode 1990-an. Akan lebih baik jika penyelenggara dan kurator bisa lebih fokus untuk menentukan kelompok seniman yang dilibatkan. Dalam rangk

    a mengulas pameran inilah, kami menampilkan karya Jabbar Muhammad sebagai sampul edisi November ini. Dialog kedua adalah yang terjadi di pameran keempat Korea-Indonesia Media Installation Art yang diadakan Korean Cultural Center di Galeria Fatahillah pada akhir Oktober hingga awal November. Pameran

    yang mengolah seni instalasi ini cenderung lebih fokus untuk melibatkan seniman-seniman muda dari kedua negara, sekaligus mengarahkan peluang penciptaan pada media seni instalasi. Dengan fokus semacam ini, publik lebih mudah mengukur perbandingan sejauh mana seniman kedua negara ini mengolah kosa ru

    pa dalam ranah seni instalasi. Dalam skala yang berbeda, tujuan berdialog pula yang menjadi spirit penyelenggaraan Yogyakarta Open Studio yang kembali digelar tahun ini. Total ada 17 studio seniman di Yogyakarta yang berpartisipasi membuka studionya untuk publik. Dengan membuka forum dialog ini, pub

    lik bisa mengetahui cara bekerja seniman dan bahkan mempelajari sejarah seni karena tahun ini penyelenggara YOS mengundang sejumlah sejarawan seni dari dalam dan luar negeri untuk mengadakan sejumlah diskusi. Selain mengangkat tema dialog dalam skena seni rupa, edisi November ini juga mengulas perhe

    latan tiga bienial di tiga kota di Korea Selatan – Seoul, Gwangju, dan Busan – yang menampilkan juga beberapa seniman Indonesia, yaitu Ade Darmawan, Julia Sarisetiati, Tromarama, dan Venza Christiawan.

  • Sarasvati - Yang Gres Di Gresik Art

    DI edisi bulan ini, kami khusus memberitakan sejumlah acara pameran yang berfokus pada para perupa muda. Seperti di Yogyakarta, pameran “Perupa Muda 2016” di Bale Banjar Sangkring menampilkan karya-karya perupa muda. Festival Kesenian Yogyakarta bahkan  punya program khusus Pameran

    Perupa Muda (Paperu),  ajang kompetisi seniman muda untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka melalui metode open call application. Hasilnya, Paperu menjaring 250 aplikasi dari dalam dan luar Yogyakarta. Untuk seorang perupa, usia muda terentang antara 20 hingga 30 tahun, dan  (biasanya

    ) masih jarang pada usia itu yang karyanya benar-benar sudah “ jadi”. Walau begitu, ternyata karya mereka demikian diminati. Namun demikian ada catatan untuk Paperu. Proporsi perupa yang terlibat cenderung tak seimbang, lebih banyak seniman undangan ketimbang seniman aplikasi. Juga dijum

    pai jajaran karya seniman yang tak bisa lagi dibilang muda dalam pameran yang tujuannya mengakomodasi seniman muda. Walau dapat sepanggung dengan perupa kenamaan dapat membangun reputasi perupa muda, tentu lebih baik jika penyelenggara menentukan secara tegas batasan konteks muda di sini. Jangan sam

    pai perupa muda hanya jadi pelengkap pameran. Kabar baik kami terima dari Gresik, Jawa Timur. Di kota yang “sepi” acara seni itu akhirnya dihelat “GresArt 0.1”, pameran yang serius, terkonsep, dan digarap dengan persiapan matang. Sekumpulan penggiat seni yang tergabung dalam

    Galeri Senirupa Gresik (GASRUG) yang mengupayakannya. Kabar tentang kiprah perupa muda tidak hanya terjadi di Yogyakarta, tapi juga di Pearl Lam Gallery di Singapore, yang menghadirkan tiga perupa muda Indonesia yang posisinya telah meng-internasional, yaitu Aditya Novali, Andy Dewantoro, dan Yudi S

    ulistyo. Kiprah lainnya dari perupa yang juga telah bertaraf internasional yang kami tampilkan di edisi ini adalah Tisna Sanjaya yang berpameran tunggal di Erasmus Huis. Dalam pameran ini, Tisna mempersoalkan keajegan kapitalisme hingga krisis sumber daya alam yang menimpa Kota Bandung Selatan. Masi

    h dengan pendekatan khas Tisna yang menjadikan material local dan tubuhnya sebagai bagian dari karya, pameran ini merupakan bentuk keprihatinan Tisna terhadap rusaknya keseimbangan alam dan perilaku manusia di dalamnya. Selamat membaca, Syenny Setiawan Direktur

  • The Peak Indonesia - Gregory Teo And David Tjiptobiantoro | The Peak Indonesia

    The Thrill of Speed I never quite understood the thrill of driving a fast car until I actually drove a Ferrari. It was exhilarating and heart pumping but surprisingly not as difficult as I thought it would be. Having sat in the driver’s seat in one of these supercars, I would jump at the chanc

    e of doing it again. and being a woman, I have to say that we of the fairer sex can enjoy the experience and thrill as much as our male brothers. Driving a Ferrari for pleasure and actually racing are of course like salt and cheese. It takes courage, experience and skill to race in a super car and f

    or this reason I greatly admire David tjiptobiantoro, the subject of our cover story for this edition. “ Driving a Ferrari gives you an adrenaline rush like none other,” he tells us in an exclusive interview. David has teamed up with Gregory teo, who also  shares his passion for rac

    ing and for Ferrari to establish  t2 Motorsports to form a racing team and to share their passion and dedication. the duo will participate in several international racing events such as the Ferrari Challenge asia pacific. This special partnership is the first cross-straits racing team formed be

    tween Singapore and Indonesia, a first in Southeast asia. the team is completed by two other drivers,  head Coach for Ferrari Challenge asia pacific Christian  Colombo from Italy and noted korean actor Jeong hoon Yeon. Enzo Ferrari used his passion for designing and building sports cars to

    found the company in 1947. Ferrari has over the past seven decades created some of the world’s greatest racing machines and many of us are today fortunate to have had the opportunity to experience his creations. Like Enzo, David is also following his dreams. as he says:“ Because I alway

    s believe that being true to yourself opens up opportunities like no other.”  Sari KuSumaningrum Follow us on Instagram at www.instagram.com/thepeakindonesia

  • Investor | Referensi Investasi - 20 Best Multifinance Companies 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA BERPACU MENDONGKRAK EKSPOR OTOMOTIF Kementerian Perindustrian mendorong industri otomotif untuk terus meningkatkan ekspor. Pemerintah akan mendukung dengan sejumlah kebijakan. Keberhasilan Thailand di pasar ekspor layak jadi contoh. Namun soal ekspor soal komitmen prinsipal. Merespons hara

    pan Gaikindo agar ada peningkatan investasi untuk mencapai target ekspor, pemerintah perlu melakukan pendekatan khusus pada prinsipal agar merealisasikan janji menjadikan Indonesia sebagai basis produksi. Oleh: Frans S. Imung

  • Investor | Referensi Investasi - 20 Best Syariah 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA MEMPERKUAT PILAR BISNIS SYARIAH, MEMBIDIK PASAR GLOBAL Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi menjadi pusat bisnis syariah. Namun, diperlukan upaya keras untuk menggenjot bisnis syariah di Tanah Air dan menembus pasar syariah global. Agar bisa berkembang, ke

    uangan syariah harus bersifat inklusif, sehingga bisa diakses semua kalangan masyarakat. Selain itu, Indonesia perlu memperkuat keberadaan pelaku bisnis menengah dan mikro untuk menopang pilar-pilar bisnis syariah. Oleh: Komang Darmawan

  • Investor | Referensi Investasi - 20 Best Insurances Companies 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA KETATNYA PERSAINGAN ASURANSI DI ERA DIGITAL Persaingan di industri asuransi kian tajam, seiring dengan makin banyaknya pemain global yang berkiprah di Indonesia. Di sisi lain, tuntutan penggunaan teknologi digital juga menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan asuransi. Bagaimana perusa

    haan asuransi mengantisipasi berbagai tantangan yang ada, termasuk situasi ekonomi yang kurang menguntungkan saat ini? Oleh: Komang Darmawan  

  • Investor | Referensi Investasi - 50 Best Bank 2016 | Majalah Investor

    INVESTAMA TERTEKANNYA PROFITABILITAS PERBANKAN Upaya pemangkasan suku bunga pinjaman menuju single digit dan pengaturan net interest margin diperkirakan akan menekan profitabilitas perbankan. Pasalnya, upaya itu tidak diiringi dengan efisiensi operasional bank dan penurunan cost of fund secara signi

    fikan. Kondisi ekonomi yang belum mendukung juga menimbulkan kekhawatiran terjadinya credit crunch dan membengkaknya kredit bermasalah. Oleh: Komang Darmawan PEMERINGKATAN BANK 2016: 3 BANK PAPAN ATAS MASIH BERTAHAN Meski menghadapi banyak tantangan, tiga bank papan atas, yaitu BRI, BCA dan Mandiri

    , masih bertahan di posisi “Top 3”.  Oleh: Komang Darmawan SAAT SEKTOR RIIL ‘OGAH’ PINJAM DUIT. Kalangan perbankan termasuk otoritas harus mengevaluasi proyeksi pertumbuhan kredit  tahun ini, menyusul situasi perekonomian global yang tak menentu. Hal ini diperburuk

    terkoreksinya pertumbuhan Negeri Tirai Bambu, yang menjadi pasar komoditas dalam negeri. Oleh: Fajar Widhiyanto KONSOLIDASI VIA BUNGA ‘SINGLE DIGIT’. Pemerintah menyiapkan scenario pembentukan holding untuk bank-bank besar berpelat merah. Untuk bankbank kecil akan “dipaksa”

    melakukan konsolidasi lewat kebijakan bunga single digit di akhir tahun. Oleh Fajar Widhiyanto MENKO MARITIM: TOL LAUT BUKAN DONGENG. Menko Maritim Rizal Ramli menegaskan bahwa konsep Tol Laut yang dilansir oleh Presiden Joko Widodo sudah mulai diimplementasikan di empat rute.  Rute itu 

    ; berangkat dari Tanjung Perak dan Tanjung Priok ke kawasan timur Indonesia. Oleh: Fajar Widhiyanto INFLASI 2016 PADA RENTANG 4,0% - 4,5% Pemerintah memproyeksikan  angka inflasi tahun ini berkisar 4,0%  hingga 4,5%. Sedikit lebih rendah dibanding proyeksi pemerintah pada awal tahun ini y

    ang menyebut angka infasi 2016 akan berada di angka 4,7%. Oleh: Fajar Widhiyanto MEMASYARAKATKAN ASURANSI LEWAT PRODUK ‘PERSONAL ACCIDENT’ Potensi asuransi kecelakaan diri sebenarnya besar karena bisa dilekatkan dengan produk atau aktivitas lain. Selain menarik secara bisnis, produk ini

    dapat dijadikan jalan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat berasuransi. Oleh: Windarto

  • Label Free View Magazine - View Magazine - September Edition 2016

    INDONESIA’S PREMIER ENTERTAINMENT & TV GUIDE MAGAZINE DENZEL WASHINGTON – AKTOR TAKUT TUHAN YANG MERAIH LIFETIME ACHIEVEMENT AWARD DI USIA 61 TAHUN WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN DOROTHY WANG DAN PESERTA PHOTO FACE-OFF ASAL INDONESIA INDONESIA DIBALIK THE AMAZING RACE ASIA PARADE JEMBER

    FASHION CARNAVAL-LIPPOMALL KEMANG  

  • Label Free View Magazine - View Magazine - August 2016

    INDONESIA’S PREMIER ENTERTAINMENT & TV GUIDE MAGAZINE ANTOINE GRIEZMANN – MEMILIKI NAMA JERMAN BERDARAH PERANCIS, KETURUNAN PORTUGAL BERMAIN DI LAGA SPANYOL HBO ASIA MENGHADIRKAN JURASSIC WORLD JAKARTA FMX, TAYANGAN TV KABEL DI PONSEL DAN TABLET HEBOH POKEMON GO YANG MENGGEMPARKAN DN

    IA OLIMPIADE PERTAMA DI AMERIKA SELATAN  

  • Label Free View Magazine - View Magazine - July Edition 2016

    INDONESIA’S PREMIER ENTERTAINMENT & TV GUIDE MAGAZINE CHRIS PRATT – PAMERAN UTAMA JURASSIC WORLD HOBI MENGOLEKSI SERANGGA MENGENAL SEJARAH WIMBLEDON WISATA KELILING KOTA NAIK BIS TINGKAT MOCHTAR RIADY LIBRARY DI UNIVERSITAS TSINGHUA MATAHARI RAMADHAN FASHION DELIGHT  

  • Label Free View Magazine - View Magazine - June Edition 2016

    INDONESIA’S PREMIER ENTERTAINMENT & TV GUIDE MAGAZINE MCKENNNA GRACE – MINI MERYL STREEP YANG MEMILIKI 100 EKOR HEWAN PELIHARAAN ULANG TAHUN DISNEY-PIXAR KE-30 KISAH DIBALIK NAMA DAERAH TERKENAL DI JAKARTA KEHADIRAN SUPERHERO DI LAYAR KACA SEPANJANG LIBURAN SEKOLAH  

  • Label Free View Magazine - View Magazine - May Edition 2016

    INDONESIA’S PREMIER ENTERTAINMENT & TV GUIDE MAGAZINE Ashton Kutcher – Investor berbagai aplikasi online yang memulai karir sebagai model dan actor Panduan piktograf dan ideograf, awal dari sistem alphabet Satu decade fashion nation Mengenal 5 tokoh “Game of Thrones” di m

    usim keenam  

  • Label Free View Magazine - View Magazine - April Edition 2016

    INDONESIA’S PREMIER ENTERTAINMENT & TV GUIDE MAGAZINE Tae Yeon – Ketua Girlband K-Pop Yang Merilis Album Solo Pertama Tahun 2016 Dua Karakter Wakil Indonesia di Ajang Asia’s Next Top Model Wahana 4D “Game of Thrones” di Singapura Mengisi Liburan Bersama Hotel Aryadu

    ta Bandung di Jantung Kota Kembang  

  • Label Free View Magazine - View Magazine - March Edition 2016

    INDONESIA’S PREMIER ENTERTAINMENT & TV GUIDE MAGAZINE Robin Thicke – Penyanyi Pop Yang Selalu Tampil Elegan Di Atas Panggung Di Balik Kamera Film Layar Lebar “Blusukan Jakarta” 4 Film Nominator Unggulan Piala Oscar 6 Serial Kuliner Di Layar Kaca Indonesia Frengers  

LOAD MORE